Chikungunya adalah sejenis demam virus yang disebabkan alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Namanya berasal dari sebuah kata dalam bahasa Makonde yang berarti "yang melengkung ke atas", merujuk kepada tubuh yang membungkuk akibat gejala-gejala arthritis penyakit ini.
Chikungunya berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up), mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini menurut lembar data keselamatan (MSDS) Kantor Keamanan Laboratorium Kanada, terutama terjadi pada lutut, pergelangan kaki serta persendian tangan dan kaki. Selain kasus demam berdarah yang merebak di sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat direpotkan pula dengan kasus Chikungunya. Gejala penyakit ini termasuk demam mendadak yang mencapai 39 derajat C, nyeri pada persendian terutama sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang yang disertai ruam (kumpulan bintik-bintik kemerahan) pada kulit. Terdapat juga sakit kepala, conjunctival injection dan sedikit fotofobia.
Ujian serologi untuk Chikungunya tersedia di Universitas Malaya di Kuala Lumpur, Malaysia.
Tidak terdapat sebarang rawatan khusus bagai Chikungunya. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri sendiri dan akan sembuh sendiri. Perawatan berdasarkan gejala disarankan setelah mengetepikan penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya.
Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus, yaitu Alphavirus dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang sama juga menularkan penyakit demam berdarah dengue. Meski masih "bersaudara" dengan demam berdarah, penyakit ini tidak mematikan. Penyakit Chikungunya disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Apakah penyakit ini juga disebabkan virus dengue? Lalu, apa bedanya dengan DBD dan bagaimana membedakannya? Penyakit Chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. virus Chikungunya ini masuk keluarga Togaviridae, genus alphavirus. Sejarah Chikungunya di Indonesia Penyakit ini berasal dari daratan Afrika dan mulai ditemukan di Indonesia tahun 1973.
Penyakit ini pertama sekali dicatat di Tanzania, Afrika pada tahun 1952, kemudian di Uganda tahun 1963. Di Indonesia, kejadian luar biasa (KLB) Chikungunya dilaporkan pada tahun 1982, Demam Chikungunya di Indonesia dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973[1], kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate, Yogyakarta (1983), Muara Enim (1999), Aceh dan Bogor (2001). Sebuah wabah Chikungunya ditemukan di Port Klang di Malaysia pada tahun 1999, selanjutnya berkembang ke wilayah-wilayah lain. Awal 2001, kejadian luar biasa demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Disusul Bogor bulan Oktober. Setahun kemudian, demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi (Jawa Barat), Purworejo dan Klaten (Jawa Tengah). Diperkirakan sepanjang tahun 2001-2003 jumlah kasus Chikungunya mencapai 3.918 jiwa dan tanpa kematian yang diakibatkan penyakit ini.
Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian. Bahkan, karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulangtulang, ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang. Gejala-gejalanya memang mirip dengan infeksi virus dengue dengan sedikit perbedaan pada hal-hal tertentu. virus ini dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui nyamuk, antara lain Aedes aegypti. virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok. Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian.
Dengan istirahat cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam tujuh hari. Tidak Menyebabkan Kematian atau Kelumpuhan ! Masih banyak anggapan di kalangan masyarakat, bahwa demam Chikungunya atau flu tulang atau demam tulang sebagai penyakit yang berbahaya, sehingga membuat panik. Tidak jarang pula orang meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Memang, sewaktu virus berkembang biak di dalam darah, penderita merasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian sehingga tidak berani menggerakkan anggota tubuh. Namun, perlu diperhatikan bahwa hal ini bukan berarti terjadi kelumpuhan. Melainkan lebih dari sekedar keengganan si penderita melakukan gerakan karena rasa ngilu pada persendian. Masa inkubasi dari demam Chikungunya dua sampai empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai 10 hari. virus ini termasuk self limiting disease alias hilang dengan sendirinya. Namun, rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di warung. Yang penting cukup istirahat, minum dan makanan bergizi. Jadi, jangan panic dulu apabila terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit ini, sebab tidak sampai menyebabkan kematian. Serta ngilu pada persendian itu tidaklah menyebabkan kelumpuhan. Penderita bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia kala. Dokter biasanya hanya memberikan obat penghilang rasa sakit dan demam atau golongan obat yang dikenal dengan obat-obat flu serta vitamin untuk penguat daya tahan tubuh. Sebagian orang mengatakan penyakit ini bisa diatasi dengan mengonsumsi jus buah segar, benarkah? Bagi penderita sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar. Sebaiknya minum jus buah segar. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh seperti semula. vitamin peningkat daya tahan tubuh juga bermanfaat untuk menghadapi penyakit ini. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa membuat rasa ngilu pada persendian cepat hilang. Minum banyak air putih juga disarankan untuk menghilangkan gejala demam. Bagaimana cara menghindari penyakit ini?
Cara menghindari penyakit ini adalah dengan membasmi nyamuk pembawa virusnya. Ternyata nyamuk ini punya kebiasaan unik. Pertama, Mereka senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih. Kedua, Serangga bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Ketiga, nyamuk ini sangat menyukai tempat yang gelap dan pengap. Mengingat penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti maka cara terbaik untuk memutus rantai penularan adalah dengan memberantas nyamuk tersebut, sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue. Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya. malation dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini karena Aedes aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.
Namun, pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari. Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih, terutama pada musim hujan seperti sekarang. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut. Bisakah seseorang terserang penyakit ini berkali-kali? Kabar baiknya, penyakit ini sulit menyerang penderita yang sama. Sebabnya, pada tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, kecil kemungkinan bagi mereka untuk kena lagi.
http://www.sapos.co.id/berita/index.asp?IDKategori=1&id=4829
custom red
Kamis, 21 Oktober 2010
Selasa, 19 Oktober 2010
MASALAH-MASALAH YANG LAZIM TERJADI PADA BAYI DAN ANAK
1. MUNTAH ATAU GUMOH
Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif atau keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak lama makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk mengeluarkan isi lambung akan terlihat sebagai kontraksi otot perut.
Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering kali dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai gangguan. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin muntah lendir, bahkan kadang-kadang disertai sedikit darah.
Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian makanan pertama, suatu keadaan yang mungkin disebabkan adanya iritasi mukosa lambung oleh sejumlah benda yang tertelan selama proses kelahiran, jika muntahnya menetap pembilasan lambung dengan larutan garam fisiologis akan dapat menolongnya.
Refluks gastroesofagus adalah kembalinya isi lambung kedalam esofagus tanpa terlihat adanya usaha dari anak
Regurgitasi adalah bila bahan dari lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut
Secara klinis kadang-kadang sukar dibedakan antara muntah, refluks dan regurgitasi. Muntah sering dianggap sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun yang tertelan.
Penyebab muntah
Pada neonatus
Organik
* Gastrointestinal
Obstruksi : atresia esofagus
Non obstruksi : perforasi lambung
* Ekstra gastrointestinal
Insufisiensi ginjal, obstruksi urethra
* Susunan syaraf pusat
Peningkatan tekanan intra cranial (TIK)
Non organik
Teknik pemberian minum yang salah, makanan/minuman yang tidak cocok atau terlalu banyak, keracunan, obat-obat tertentu, kandidasis oral.
Pada anak
Organik
* Gastrointestinal
Obstruksi : stenosis pylorus
Non obstruksi : refluk esofagal, infeksi/peritonitis
* Luar gastrointestinal
Infeksi (OMA, pertusis, tonsilofaringitis)
uremia
Non organik
* Sama dengan neonatus
* Mabuk perjalanan
* Keracunan makanan (1-8 jam sesudah makan)
* Food borne disease (salmonellosis) lebih lama dari keracunan makanan
Perlu anamnesa yang teliti :
* Pola pemberian makan
* Berat badan lahir
* Jumlah yang dimuntahkan, frekuensi
* Disertai diare, batuk atau panas
* Terjadi sebelum/sesudah makan
* Menyemprot/proyektil atau tidak
Sifat muntah
* Keluar cairan terus menerus maka kemungkinan obstruksi esophagus
* Muntah proyektil kemungkinan stenosis pylorus (pelepasan lambung ke duodenum)
* Muntah hijau (empedu) kemungkinan obstruksi otot halus, umumnya timbul pada beberapa hari pertama, sering menetap, biasanya tidak proyektil.
* Muntah hijau kekuningan kemungkinan obsruksi dibawah muara saluran empedu
* Muntah segera lahir dan menetap kemungkinan tekanan intrakranial tinggi atau obstruksi usus
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan secara radiologis yaitu apabila didapatkan gambaran suatu keadaan kelainan kongenital bawaan seperti obstruksi usus halus, atresia esophagus dan lain-lain. Selain dengan pemeriksaan radiologis, juga dapat ditegakkan dengan pemeriksaan uji coba memasukan kateter kedalam lambung. Diagnosis harus dapat segera dibuat sebelum anak tersedak sewaktu makan dengan kemungkinan terjadinya aspirasi pneumonia.
Muntah (kelainan bedah) adalah gangguan passage gastrointestinal dengan tanda-tanda muntah, perut membuncit, kegagalan evakuasi mekonium (pada BBL).
Gambaran muntah yang perlu dicurigai sebagai kelainan bedah
* Muntah hijau (gangguan pada empedu)
* Muntah proyektil (menyemprot)
* Muntah persisten
* Muntah bercampur darah
* Muntah disertai penurunan berat badan
Komplikasi
* Kehilangan cairan tubuh/elektrolit sehingga dapat menyebabkan dehidrasi
* Karena sering muntah dan tidak mau makan/minum dapat menyebabkan ketosis
* Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjatan (syok)
* Bila muntah sering dan hebat akan terjadi ketegangan otot perut, perdarahan, konjungtiva, ruptur, esophagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah jahitan bisa lepas pada penderita pasca operasi dan timbul perdarahan.
Penatalaksanaan
* Utamakan penyebabnya
* Berikan suasana tenang dan nyaman
* Perlakukan bayi/anak dengan baik dan hati-hati
* Kaji sifat muntah
* Simptomatis dapat diberi anti emetik (atas kolaborasi dan instruksi dokter)
* Kolaborasi untuk pengobatan suportif dan obat anti muntah (pada anak tidak rutin digunakan) :
o Metoklopramid
o Domperidon (0,2-0,4 mg/Kg/hari per oral)
o Anti histamin
o Prometazin
o Kolinergik
o Klorpromazin
o 5-HT-reseptor antagonis
o Bila ada kelainan yang sangat penting segera lapor/rujuk ke rumah sakit/ yang berwenang
GUMOH/REGURGITASI
Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya hanya sedikit.
Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal terutama pada bayi dibawah usia 6 bulan
Penyebab
* Anak/bayi yang sudah kenyang
* Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk kedalam lambung
* Posisi botol yang tidak pas
* Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap
* Akibat kebanyakan makan
* Kegagalan mengeluarkan udara
Diagnosis
Sebagian besar gumoh terjadi akibat kebanyakan makan atau kegagalan mengeluarkan udara yang ditelan. Oleh karena itu, sebaiknya diagnosis ditegakkan sebelum terjadi gumoh. Pengosongan lambung yang lebih sempurna, dalam batas-batas tertentu penumpahan kembali merupakan kejadian yang alamiah, terutama salam 6 bulan pertama. Namun, penumpahan kembali tersebut diturunkan sampai jumlah yang bisa diabaikan dengan pengeluaran udara yang tertelan selama waktu atau sesudah makan.
Dengan menangani bayi secara hati-hati dengan emghindari konflik emosional serta dalam menempatkan bayi pada sisi kanan, letak kepala bayi tidak lebih rendah dari badannya. Oleh karena pengeluaran kembali refleks gastroesofageal lazim ditemukan selama masa 4-6 bulan pertama.
Penatalaksanaan gumoh
* Kaji penyebab gumoh
* Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi yang umurnya dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu.
* Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan
* Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap
* Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat puting susu ibu
* Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI
* Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian terluas lambung ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung ynag luas
* Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan
2. KEMBUNG
Kembung adalah keadaan perut yang membesar dan berisi angin
Penyebab
* Bayi kembung karena menelan angin waktu menyusui
hal ini terjadi karena teknik menyusui yang salah, puting terlalu besar atau terlalu kecil
* Bayi yang minum susu formula dengan botol
Angin ikut tertelan karena lubang dot terlalu kecil, sehingga bayi menghisap terlalu kuat dan angin masuk melalui pinggiran dot
Penatalaksanaan
* Bayi menyusui ASI dengan teknik yang benar (menutupi areola)
* Bayi minum susu formula dengan dot :
o Lubang dot diperiksa (tidak terlalu kecil/besar)
o Jika botol hampir kosong, pantat botol dinaikkan
o Tidak diberi empeng
o Menyendawakan bayi setelah minum
o Minum air hangat
o Beri minyak kayu putih, minyak telon pada daerah perut
3. KONSTIPASI/OBSTIPASI
Konstipasi/sembelit adalah keadaan dimana anak jarang sekali buang air besar dan kalau buang air besar keras
Obstipasi : obstruksi intestinal (konstipasi yang berat)
Penyebab
Faktor non organik
* Kurang makanan yang tinggi serat
* Kurang cairan
* Obat/zat kimiawi
* Kelainan hormonal/metabolik
* Kelainan psikososial
* Perubahan mikroflora usus
* Perubahan/kurang exercise
Faktor organik
* Kelainan organ (mikrocolon, prolaps rectum, struktur anus, tumor)
* Kelainan otot dasar panggul
* Kelainan persyarafan : M. Hirsprung
* Kelainan dalam rongga panggul
* Obstruksi mekanik : atresia ani, stenosis ani, obstruksi usus
Tanda dan gejala
* Frekuensi BAB kurang dari normal
* Gelisah, cengeng, rewel
* Menyusu/makan/minum kurang
* Fese keras
Pemeriksaan penunjang
* Laboratorium (feses rutin, khusus)
* Radiologi (foto polos, kontras dengan enenma)
* Manometri
* USG
Penatalaksanaan
* Banyak minum
* Makan makanan yang tinggi serat (sayur dan buah)
* Latihan
* Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi
* ASI lebih baik dari susu formula
* Enema perotal/peranal
* Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi
* Perawatan kulit peranal
4. DIARE
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)
Penyebab
* Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
* Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan sanitasi yang buruk
* Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan
* Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
* Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani
* Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
* Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
* Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)
* Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)
Jenis diare
* Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam * Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus * Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun disentri Tanda dan gejala * Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti muntah dan diare * Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering * Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia * Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering. * Pucat anus dan sekitarnya lecet * Pengeluaran urin berkurang/tidak ada * Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan terdapat butiran lemak * Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa * Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah Komplikasi * Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam) * Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian * Penurunan berat badan dan malnutrisi * Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah) * Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah) * Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah) * Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh) Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1997) * Dehidrasi ringan, BB menurun 3-5% dengan volume cairan yang hilang < 50 ml/kgBB * Dehidrasi sedang, BB menurun 6-9% dengan volume cairan yang hilang 50-90% ml/kgBB * Dehidrasi berat, BB menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang hilang ≥100 ml/kgBB Penatalaksanaan * Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit * Terapi rehidrasi * Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya * Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan * Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik * Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses 5. DERMATITIS ATOPIK (EKSIM SUSU) Dermatitis atopik adalah penyakit kulit tersering pada bayi dan anak, sering kambuh, diturunakn dalam keluarga, tidak menular dan merupakan pertanda timbulnya asma. Penyebab Belum jelas, sangat kompleks * “Eksim susu” dulu disangka penyebabnya adalah ASI, hal ini terbukti salah karena Asi justru mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi * Faktor kulit yang ekring * Faktor kebersihan diri (personal hygiene) dan kebersihan lingkungan yang kurang * Faktor hidup kurang sehat, yaitu istirahat dan asupan nutrisi yang kurang * Faktor perilaku dan emosi * Alergi terhadap makanan seperti susu, telur, ikan, kacang, coklat, jeruk dan lain-lain Gambaran klinik * Lokasi pada bayi biasanya di muka terutama kedua pipi. Pada dewasa ditengkuk, lekukan siku, lutut biasanya lebih kering * Terasa sangat gatal * Warna kulit kemerahan, ukuran kecil sebesar koin sampai dengan telapak tangan, basah atau berdarah. Setelah itu akan mengering dan menjadi keropeng, kekuningan atau kehitaman, kulit bersisik dan kering * Mudah terkena infeksi bakteri, virus atau jamur Penatalaksanaan Mencegah kekambuhan * Mencegah makanan penyebab alergi dan memberikan makanan pengganti * Cegah allergen lingkungan seperti debu rumah, tungau, serbuk-serbuk, kapuk dan lingkungan yang bersih * Kebersihan perseorangan yang terjaga (seperti kulit lembab dan bersih) * Hindari suasana sedih, kesal dan depresi Pengobatan (kolaborasi) * Hindari faktor pencetus dan pemeliharaan kulit * Obat anti gatal * Kortikosteroid salep (berikan tipis-tipis) Efek samping kortikosteroid : penipisan kulit, gangguan pertumbuhan tulang, gangguan siklus hormon 6. DIAPER RASH (RUAM POPOK) Diaper rash adalah ruam kulit akibat radang pada daerah yang tertutup popok, yaitu pada alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Berupa bercak-bercak iritasi kemerahan, kadang menebal dan bernanah. Iritasi terjadi karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik. Diaper rash juga merupakan reaksi kulit dengan amonia dari urin kontaminasi bakteri dari maternal fecal Penyebab * Sering terjadi pada usia 9-12 bulan, tidak sering mengganti pampers, modifikasi diet * Kebersihan kulit yang tidak terjaga * Udara atau suhu lingkungan yang teralu panas atau lembab * Kulit bayi masih peka sehingga mudah iritasi * Popok yang basah karena urin dan feses yang tidak segera diganti (enzim protease dan lipase) * Lebih parah pada bayi yang mengkonsumsi susu formula (pada susu formula kandungan protein lebih tinggi sehingga kadar amonia/urea lebih pekat) * Infeksi jamur Candida albicans dan infeksi bakteri Staphylococcus menyebabkan perubahan sistem imun * Popok yang mengiritasi akibat sabun, karet, plastik dan detergen yang keras * Diare sehingga menyebabkan iritasi kulit Tanda dan gejala * Iritasi pada kulit yang terkena muncuul sebagai erithema * Erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti pantat, alat kelamin, perut bawah, paha bagian atas dan lipatan-lipatan kulit * Erupsi dapat berupa bercak kering, merah dan bersisik * Keadaan lebih parah terdapat pada papila erythemetosa, vesicula dan ulcerasi * Bayi menjadi rewel karena rasa nyeri Penatalaksanaan * Menjaga kebersihan dan kelembaban daerah kulit bayi, terutama didaerah alat kelamin, bokong, lipatan selangkangan * Daerah yang terkena iritasi tidak boleh dalam keadaan basah (terbuka dan tetap kering) * Menjaga kebersihan pakaian danperlengkapan * Setiap BAB dan BAK bayi segera dibersihkan * Untuk membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus yang dioleskan dengan minyak atau sabun mild dan air hangat * Popok dicuci dengan detergen yang lembut * Mengangin-anginkan kulit sebelum pampers baru dipasang dan menggunkan pampers dengan daya serap yang tinggi dan pas pemakaiannya * Menggunakan popok yang tidak terlalu ketat (terbuka atau longgar) untuk memperbaiki sirkulasi udara. * Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit yang teriritasi * Pengobatan o Mengoleskan krim dan lotion yang mengandung zinc pada daerah yang sedang meradang o Memberikan salep/krim yang mengandung kortikosteroid 1% o Salep anti jamur dan bakteri (miconazole, ketokonazole, nystatin) 7. MILIARIASIS/SUDAMINA/LIKEN TROPIKUS/BIANG KERINGAT Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai dengan gelembung kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup pakaian (dada, punggung), tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan juga kepala. Faktor penyebab * Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang * Pakaian yang terlalu ketat, bahan tidak menyerap keringat * Aktivitas yang berlebihan * Setelah menderita demam atau panas * Penyumbatan dapat ditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan di absorbsi oleh stratum korneum Bentuk miliariasis Miliaria kristalina * Kelainan kulit berupa gelembung kecil 1-2 mm berisi cairan jernih disertai kulit kemerahan * Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian pakaian yang tertutup pakaian * Umumnya tidak menimbulkan keluhan dan sembuh dengan sisik halus * Pada keadaan histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal * Asuhan : pengobatan tidak diperlukan, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik serta menggunakan pakaian yang menyerap keringat. Miliaria rubra * Sering dialami pada anak yang tidak biasa tinggal didaerah panas * Kelainan berupa papula/gelembung merah kecil dan dapat menyebar atau berkelompok dengan rasa sangat gatal dan pedih * Staphylococcus juga diduga memiliki peranan * Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis * Asuhan : gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik, dapat diberikan bedak salicyl 2% dibubuhi menthol 0,25-2% Miliaria profunda * Timbul setelah miliaria rubra * Papula putih, kecil, berukuran 1-3 mm * Terdapat terutama di badan ataupun ekstremitas * Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinik lebih banyak berupa papula daripada vesikel * Tidak gatal, jarang ada keluhan, tidak ada dasar kemerahan, bentuk ini jarang ditemui * Pada keadaan histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis bagian atas atau tanpa infiltrasi sel radang * Asuhan : hindari panas dan lembab berlebihan, mengusahakan regulasi suhu yang baik, menggunakan pakaian yang tipis, pemberian losio calamin dengan atau tanpa menthol 0,25% dapat pula resorshin 3% dalam alkohol Penatalaksanaan * Perawatan kulit yang benar * Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil atau bedak kocok setelah mandi * Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang terbentuk memperparah sumbatan kelenjar * Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotik * Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih, sehingga tidak menggores kulit saat menggaruk) 8. DERMATITIS SEBOROIK/CRADLE CAP Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronik yang berhubungan dengan kelenjar sebaseus. Dermatitis seboroik juga merupakan kerak pada kulit kepala bayi yang disebabkan oleh vernix kaseosa yang tidak bersih dan dapat terinfeksi staphylococcus. Penyakit ini biasanya dimulai dari kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan badan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan konstitusionil dan sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita yang mengalami penyakit ini terjadi pada kulit yang berlemak (sebaseus), tetapi bagaimana hubungan antara kelenjar lemak dengan penyakit ini masih belum jelas. Ada yang menganggap bahwa kambuhnya penyakit ini akibat makanan yang berlemak, makanan berkalori tinggi, minuman beralkohol dan gangguan emosi. Penyebab * Kurang jelas * Berkaitan dengan sistem imun dan hygiene yang buruk * Karena adanya vernix kaseosa/lemak pada kepala bayi yang kemudian terinfeksi staphylococcus * Sering terjadi pada penderita HIV-AIDS dan anak-anak Gejala * Semacam noda berwarna kuning yang berminyak, bersisik, yang kemudian mengeras dan akhirnya menjadi semacam kerak. Kerak ini sering timbul di kulit kepala (cradle cap), kadang di alis/bulu mata dan telinga. * Exudat seborrhoic pada kulit kepala (masalah kosmetik) Diagnosis banding Atopik dermatitis dengan gejala eritema, edema eksudasi, krusta dan bersisik terutama pada bayi muda. Penatalaksanaan * Oleskan atau basahi kerak dengan baby oil atau vaselin selama 24 jam, sesudah itu urut pelan-pelan kulit kepala yang berkerak itu dengan handuk lembut hingga kerak mengelupas * Mengeluarkan kerak yang tersangkut di rambut dengan hati-hati (dicukur untuk memudahkan perawatan) * Dapat juga digunakan sikat rambut yang lembut, sisir yang halus atau kapas untuk menghindari iritasi pada kulit kepala bayi * Pada keadaan tertentu dapat diberi kortikosteroid, antifungi dan antibiotika tropical * Menjaga kebersihan bayi dengan memandikan dan mencuci rambutnya dengan shampo khusus untuk bayi atau shampo anti seboroik 9. BERCAK MONGOL Bercak mongol adalah bercak kebiruan, kehitaman atau kecoklatan yang lebar, difus, terdapat didaerah bokong atau lumbosakral yang akan menghilang setelah beberapa bulan atau tahun. Bercak mongol adalah pigmentasi yang datar dan berwarna gelap didaerah pinggang bawah dan bokong yang ditemukan pada saat lahir pada beberapa bayi yang akan menghilang secara perlaan-lahan selama tahun pertama. Patofisiologi Bercak mongol rata-rata muncul pada umur kehamilan 38 minggu. Mula-mula terbatas di fossa koksigea lalu menjalar ke regio lumbosakral. Tempat lain yaitu didaerah orbita : sclera atau fundus mata dan daerah zigomaticus (nevus ota), daerah deltotrapezeus (nevus ito). Nevus ota dan nevus ito biasanya menetap, tidak perlu diberikan pengobatan, cukup dengan tindakan konservatif saja. Namun bila penderita telah dewasa, pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika. Akhir-akhir ini dianjurkan pengobatan dengan sinar laser. Penyebab * Belum jelas * Timbulnya bercak akibat ditemukannya lesi yang berisi sel melanosit pada lapisan dalam dermis atau sekitar folikel rambut Penatalaksanaan * Bercak mongol biasanya akan menghilang setelah beberapa pekan sampai 1 tahun, sehingga tidak perlu pengobatan dan cukup dilakukan tindakan konservatif * Informasikan kepada keluarga untuk mengurangi kekhawatiran/kecemasan * Pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika 10. HEMANGIOMA (TUMOR JINAK DI KULIT) * adalah malformasi vascular local yang disebut juga nevi vascular atau hemangima yang sering ditemukan pada kelopak mata atas neonatus. * Adalah tumor jinak atau hamartoma/gumpalan yang terjadi akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan dapat terjadi disegala organ seperti hati, limfa, otak, tulang dan kulit * Kelainan yang terjadi pada kulit akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah yang terletak di superficial (kutan), subkutan atau campuran. Penyebab * Masih belum jelas * Timbulnya hemangioma dikarenakan pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel Jenis hemangioma * Hemangioma kapiler Terdiri dari pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel. Bila menghilang terjadi gangguan fibrotik Terdiri atas : * Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus) * Granuloma piogenik * Cherry spot (ruby-spot), angioma senilis * Hemangioma kavernosa Berasal dari lapisan dermis bagian bawah, disertai rongga-rongga besar yang tidak teratur dan berisi darah Terdiri atas : * Hemangioma kavernosum (hemangioma matang) * Hemangioma keratotik * Hemangioma vaskular * Telangiektasis o Nevus flameus o Angiokeratoma o Spider angioma Tipe hemangioma kutan pada kelopak mata neonatus * Hemangioma telangietaksis dasar tipis (flat telang relatic hemangiomas) * Hemangioma yang menonjol berupa kapiler, kaverna atau campuran (hemangioma besar : proptosis sampai dengan trelihat dibawah konjungtiva tarsal) Gejala klinis Hemangioma kapiler * Strawberry hemangioma (hemangioma simpleks) Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari sesudah lahir. Tampak sebagai bercak merah yang semakin lama semakin besar. Warnanya menjadi merah menyala, tegang dan berbentuk lobular, berbatas tegas, tegang dan keras pada perabaan. Ukuran dan dalamnya sangat bervariasi, ada yang superfisial berwarna merah terang dan ada yang subkutan berwarna kebiruan. Involusi kurang tegang dan lebih mendatar. * Granuloma piogenik Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi bukan oleh karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi biasanya soliter, dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh yang sering mengalami trauma. Mula-mula berbentuk papul sritematosa dengan pembesaran yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai pembesaran 1 cm dan dapat bertangkai. Lesi mudah berdarah. Hemangioma kavernosum Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eriternatosa atau nodus yang berwarna merah sampai ungu. Bila ditekan mengempis dan akan cepat menggembung lagi apabila lepas. Lesi terdiri atas elemen vaskular yang matang. Bentuk kavernosum jarang mengadakan involusi spontan. Hemangioma campuran Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis kavernosum. Gambaran klinisnya juga terjadi atas gambaran kedua jenis tersebut. Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas inferior, biasanya unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir atau masa anak-anak. Lesi berupa tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang kemudian pada perkembangannya dapat gambaran keratotik dan verukosa. Diagnosis Secara klinis diagnosis hemangioma tidak sukar, terutama pada lesi yang khas. Gambaran klinis umum ialah adanya bercak merah yang timbul sejak lahir atau beberapa saat setelah lahir. Pertumbuhannya relatif cepat dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, warnanya merah terang bila jenis strawberry atau biru bila jenis kavernosa. Bil besar maksimum sudah tercapai, biasanya pada umur 9-12 bulan, warnanya menjadi merah gelap. Diagnosis banding Diagnosis banding ialah terhadap tumor kulit lainnya, yaitu limfangioma, higroma, lipoma, dan neurofibroma. Penatalaksanaan * Umumnya hemangioma akan menghilang dengan sendirinya * Tetapi bila terdapat prognosis yang berat lakukan rujukan dan kolaborasi dengan tenaga medis dan berikan prednison 2-3 mg/kgBB/hari selama 10-14 hari, jika hemangioma menipis/menghilang dosis diturunkan secara bertahap 11. FURUNKEL ATAU BISUL Furunkel adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh staphylococcus profunda yang berbentuk nodul-nodul lemak eritematosa dan letaknya didalam, biasanya daerah muka, pantat, leher, ketiak dan lain-lain. Nodul ini mengandung cairan yang dalam waktu beberapa hari akan mengeluarkan bahan nekrotik bernanah. Berbentuk * Furunkel (boil) * Karbunkel (furunkel multipel) Furunkel dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan terletak didaerah nasal, aksila dan telinga Penatalaksanaan * Furunkel diobati dengan drainase pembedahan, dengan kompres basah * Pemberian antibiotika sistemik 12. KANDISOSIS/MONILIASIS/ORAL TRUSH Oral trush adalah infeksi Candida yang didapat bayi melalui jalan lahir atau perkontinuitatum. Biasanya infeksi terjadi didaerah mukokutan, mulut dan bibir. Lesi berupa bercak putih yang lekat pada lidah, bibir dan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu. Infeksi ini dapat meluas ke saluran terutama di lipatan kulit, bahkan ke berbagai alat dalam. Kandidosis oral Infeksi candida pada daerah mulut, sering terjadi pada bayi normal dan makin jarang sejalan dengan pertambahan usia. Penyebab * Infeksi melalui jalan lahir pada ibu yang menderita kandidosis vagina (Candida albicans) * Infeksi silang dari penderita kandidiasis lain * Candida albicans dapat menyebabkan infeksi apabila ada faktor predisposisi * Peralatan minum terutama yang menggunakan PASI * Bayi yang mendapatkan terapi antibiotika atau immunosupresi Faktor predisposisi * Faktor endogen : perubahan fisiologik, umur, imunologik * Faktor eksogen : iklim, kebersihan, kontak dengan penderita Gejala * Terdapat bercak putih pada lidah, bibirdan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu * Jika sisa susu mudah diangkat, namun jika moniliasis sulit diangkat dan jika dilepaskan dari dasarnya akan menyebabkan basah, merah dan berdarah * Diagnosa dapat diketahui dengan sediaan hapusan yang berwarna biru metilen dan tampak miselium dan spora yang khas Pencegahan * Menghindari/menghilangkan faktor predisposisi * Setiap bayi selesai minum susu berikan 1-2 sendok teh air matang untuk membilas sisa susu dalam mulut bayi * Pemeliharaan kebersihan mulut dan perawatan payudara Komplikasi * Kesukaran minum dapat mengakibatkan kekurangan makanan * Diare bila tidak diobati dapat menjadi penyebab dehidrasi Penatalaksanaan * Membersihkan mulut dan lidah yang dibasahi air matang hangat * Kandidiasis pada bayi sehat biasanya sembuh sendiri, tapi lebih baik diobati * Beri gentian violet 0,5% dioleskan pada luka didalam mulut /bibir * Nistatin 100.000 U dioleskan 3x sehari atau dalam bentuk tetes kedalam mulut bayi, pemberian nistatin tidak boleh lebih dari 7 hari. * Mengolesi puting susu dengan cream nistatin/gentian violet setiap selesai menyusui selama bayi diobati 13. IKTERUS FISIOLOGIS Ikterus fisiologis adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dalam satu minggu pertama kehidupannya. Pada hari ke 2-3 dan puncaknya di hari ke 5-7, kemudian akan menurun pada hari ke 10-14, peningkatannya tidak melebihi 10 mg/ddl pada bayi atterm dan < 12 mg/dl pada bayi permatur. Keadaan ini masih dalam batas normal. Manifestasi klinis Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dengan cahaya sinar matahari. Salah satu cara pemeriksaan derajat kuning pada BBL secara klinis, sederhana dan mudah adalah dengan penilaian menurut Kramer (1969). Caranya dengan jari telunjuk ditekankan kepada tempat-tempat yang tulangnya menonjol seperti hidung, dada, lutut dan lain-lain. Tempat yang ditekan akan tampak pucat atau kuning. Penilaian bilirubin pada masing-masing tempat tersebut disesuaikan dengan tabel derajat ikterus menurut kramer (1969). Zona Bagian tubuh yang kuning Rata2 serum bilirubin indirek (umol/l) 1 Kepala dan leher 100 2 Pusat-leher 150 3 Pusat-paha 200 4 Lengan+tungkai 250 5 Tangan+kaki >250
Tanda dan gejala
Warna ikterus (kuning) pada kulit, konjungtiva dan mukosa
Pencegahan
* Pengawasan ANC yang baik
* Menghindari pemberian obat-obatan pada masa kehamilan seperti sulfanamida dan lain-lain
* Pemberian ASI sedini mungkin (early feeding)
o Mempercepat metabolisme bilirubin, yaitu dengan menambahkan glukosa yang terdapat dalam ASI
o Pengeluaran bilirubin
Protein albumin dalam ASI merupakan transportasi bilirubin, albumin mengikat bilirubin agar mempermudah proses ekstraksi bilirubin jaringan kedalam plasma. Hal ini mengakibatkan bilirubin plasma meningkat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin ada dalam ikatan albumin.
Penatalaksanaan
* Pemberian ASI yang adekuat
Anjurkan ibu menyusui sesuai dengan keinginan bayinya, paling tidak setiap 2-3 jam
* Jemur bayi dalam keadaan telanjang dengan sinar matahari pukul 7-9 pagi
Pemberian terapi sinar matahari sehingga bilirubin diubah menajdi isomer foto yang tidak toksik dan mudah dikeluarkan tubuh karena mudah larut dalam air
Tujuan utama penatalaksaan ikterus fisiologis adalah mengendalikan agar kadar bilirubin tidak meningkat 4-5 mg/dl dalam 24 jam, karen adapat menyebabkan ensefalopati bilirubin yaitu bilirubin indirek (tak terkonjugasi) akan direabsorpsi kembali melalui sirkulasi enterohepatik ke aliran darah dan menembus sawar otak yang akan menimbulkan bayi lethargi, kejang, bayi malas menghisap dan malas minum.
Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif atau keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak lama makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk mengeluarkan isi lambung akan terlihat sebagai kontraksi otot perut.
Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering kali dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai gangguan. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin muntah lendir, bahkan kadang-kadang disertai sedikit darah.
Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian makanan pertama, suatu keadaan yang mungkin disebabkan adanya iritasi mukosa lambung oleh sejumlah benda yang tertelan selama proses kelahiran, jika muntahnya menetap pembilasan lambung dengan larutan garam fisiologis akan dapat menolongnya.
Refluks gastroesofagus adalah kembalinya isi lambung kedalam esofagus tanpa terlihat adanya usaha dari anak
Regurgitasi adalah bila bahan dari lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut
Secara klinis kadang-kadang sukar dibedakan antara muntah, refluks dan regurgitasi. Muntah sering dianggap sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun yang tertelan.
Penyebab muntah
Pada neonatus
Organik
* Gastrointestinal
Obstruksi : atresia esofagus
Non obstruksi : perforasi lambung
* Ekstra gastrointestinal
Insufisiensi ginjal, obstruksi urethra
* Susunan syaraf pusat
Peningkatan tekanan intra cranial (TIK)
Non organik
Teknik pemberian minum yang salah, makanan/minuman yang tidak cocok atau terlalu banyak, keracunan, obat-obat tertentu, kandidasis oral.
Pada anak
Organik
* Gastrointestinal
Obstruksi : stenosis pylorus
Non obstruksi : refluk esofagal, infeksi/peritonitis
* Luar gastrointestinal
Infeksi (OMA, pertusis, tonsilofaringitis)
uremia
Non organik
* Sama dengan neonatus
* Mabuk perjalanan
* Keracunan makanan (1-8 jam sesudah makan)
* Food borne disease (salmonellosis) lebih lama dari keracunan makanan
Perlu anamnesa yang teliti :
* Pola pemberian makan
* Berat badan lahir
* Jumlah yang dimuntahkan, frekuensi
* Disertai diare, batuk atau panas
* Terjadi sebelum/sesudah makan
* Menyemprot/proyektil atau tidak
Sifat muntah
* Keluar cairan terus menerus maka kemungkinan obstruksi esophagus
* Muntah proyektil kemungkinan stenosis pylorus (pelepasan lambung ke duodenum)
* Muntah hijau (empedu) kemungkinan obstruksi otot halus, umumnya timbul pada beberapa hari pertama, sering menetap, biasanya tidak proyektil.
* Muntah hijau kekuningan kemungkinan obsruksi dibawah muara saluran empedu
* Muntah segera lahir dan menetap kemungkinan tekanan intrakranial tinggi atau obstruksi usus
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan secara radiologis yaitu apabila didapatkan gambaran suatu keadaan kelainan kongenital bawaan seperti obstruksi usus halus, atresia esophagus dan lain-lain. Selain dengan pemeriksaan radiologis, juga dapat ditegakkan dengan pemeriksaan uji coba memasukan kateter kedalam lambung. Diagnosis harus dapat segera dibuat sebelum anak tersedak sewaktu makan dengan kemungkinan terjadinya aspirasi pneumonia.
Muntah (kelainan bedah) adalah gangguan passage gastrointestinal dengan tanda-tanda muntah, perut membuncit, kegagalan evakuasi mekonium (pada BBL).
Gambaran muntah yang perlu dicurigai sebagai kelainan bedah
* Muntah hijau (gangguan pada empedu)
* Muntah proyektil (menyemprot)
* Muntah persisten
* Muntah bercampur darah
* Muntah disertai penurunan berat badan
Komplikasi
* Kehilangan cairan tubuh/elektrolit sehingga dapat menyebabkan dehidrasi
* Karena sering muntah dan tidak mau makan/minum dapat menyebabkan ketosis
* Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjatan (syok)
* Bila muntah sering dan hebat akan terjadi ketegangan otot perut, perdarahan, konjungtiva, ruptur, esophagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah jahitan bisa lepas pada penderita pasca operasi dan timbul perdarahan.
Penatalaksanaan
* Utamakan penyebabnya
* Berikan suasana tenang dan nyaman
* Perlakukan bayi/anak dengan baik dan hati-hati
* Kaji sifat muntah
* Simptomatis dapat diberi anti emetik (atas kolaborasi dan instruksi dokter)
* Kolaborasi untuk pengobatan suportif dan obat anti muntah (pada anak tidak rutin digunakan) :
o Metoklopramid
o Domperidon (0,2-0,4 mg/Kg/hari per oral)
o Anti histamin
o Prometazin
o Kolinergik
o Klorpromazin
o 5-HT-reseptor antagonis
o Bila ada kelainan yang sangat penting segera lapor/rujuk ke rumah sakit/ yang berwenang
GUMOH/REGURGITASI
Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya hanya sedikit.
Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal terutama pada bayi dibawah usia 6 bulan
Penyebab
* Anak/bayi yang sudah kenyang
* Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk kedalam lambung
* Posisi botol yang tidak pas
* Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap
* Akibat kebanyakan makan
* Kegagalan mengeluarkan udara
Diagnosis
Sebagian besar gumoh terjadi akibat kebanyakan makan atau kegagalan mengeluarkan udara yang ditelan. Oleh karena itu, sebaiknya diagnosis ditegakkan sebelum terjadi gumoh. Pengosongan lambung yang lebih sempurna, dalam batas-batas tertentu penumpahan kembali merupakan kejadian yang alamiah, terutama salam 6 bulan pertama. Namun, penumpahan kembali tersebut diturunkan sampai jumlah yang bisa diabaikan dengan pengeluaran udara yang tertelan selama waktu atau sesudah makan.
Dengan menangani bayi secara hati-hati dengan emghindari konflik emosional serta dalam menempatkan bayi pada sisi kanan, letak kepala bayi tidak lebih rendah dari badannya. Oleh karena pengeluaran kembali refleks gastroesofageal lazim ditemukan selama masa 4-6 bulan pertama.
Penatalaksanaan gumoh
* Kaji penyebab gumoh
* Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi yang umurnya dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu.
* Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan
* Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap
* Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat puting susu ibu
* Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI
* Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian terluas lambung ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung ynag luas
* Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan
2. KEMBUNG
Kembung adalah keadaan perut yang membesar dan berisi angin
Penyebab
* Bayi kembung karena menelan angin waktu menyusui
hal ini terjadi karena teknik menyusui yang salah, puting terlalu besar atau terlalu kecil
* Bayi yang minum susu formula dengan botol
Angin ikut tertelan karena lubang dot terlalu kecil, sehingga bayi menghisap terlalu kuat dan angin masuk melalui pinggiran dot
Penatalaksanaan
* Bayi menyusui ASI dengan teknik yang benar (menutupi areola)
* Bayi minum susu formula dengan dot :
o Lubang dot diperiksa (tidak terlalu kecil/besar)
o Jika botol hampir kosong, pantat botol dinaikkan
o Tidak diberi empeng
o Menyendawakan bayi setelah minum
o Minum air hangat
o Beri minyak kayu putih, minyak telon pada daerah perut
3. KONSTIPASI/OBSTIPASI
Konstipasi/sembelit adalah keadaan dimana anak jarang sekali buang air besar dan kalau buang air besar keras
Obstipasi : obstruksi intestinal (konstipasi yang berat)
Penyebab
Faktor non organik
* Kurang makanan yang tinggi serat
* Kurang cairan
* Obat/zat kimiawi
* Kelainan hormonal/metabolik
* Kelainan psikososial
* Perubahan mikroflora usus
* Perubahan/kurang exercise
Faktor organik
* Kelainan organ (mikrocolon, prolaps rectum, struktur anus, tumor)
* Kelainan otot dasar panggul
* Kelainan persyarafan : M. Hirsprung
* Kelainan dalam rongga panggul
* Obstruksi mekanik : atresia ani, stenosis ani, obstruksi usus
Tanda dan gejala
* Frekuensi BAB kurang dari normal
* Gelisah, cengeng, rewel
* Menyusu/makan/minum kurang
* Fese keras
Pemeriksaan penunjang
* Laboratorium (feses rutin, khusus)
* Radiologi (foto polos, kontras dengan enenma)
* Manometri
* USG
Penatalaksanaan
* Banyak minum
* Makan makanan yang tinggi serat (sayur dan buah)
* Latihan
* Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi
* ASI lebih baik dari susu formula
* Enema perotal/peranal
* Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi
* Perawatan kulit peranal
4. DIARE
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)
Penyebab
* Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
* Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan sanitasi yang buruk
* Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan
* Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
* Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani
* Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
* Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
* Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)
* Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)
Jenis diare
* Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam * Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus * Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun disentri Tanda dan gejala * Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti muntah dan diare * Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering * Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia * Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering. * Pucat anus dan sekitarnya lecet * Pengeluaran urin berkurang/tidak ada * Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan terdapat butiran lemak * Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa * Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah Komplikasi * Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam) * Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian * Penurunan berat badan dan malnutrisi * Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah) * Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah) * Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah) * Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh) Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1997) * Dehidrasi ringan, BB menurun 3-5% dengan volume cairan yang hilang < 50 ml/kgBB * Dehidrasi sedang, BB menurun 6-9% dengan volume cairan yang hilang 50-90% ml/kgBB * Dehidrasi berat, BB menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang hilang ≥100 ml/kgBB Penatalaksanaan * Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit * Terapi rehidrasi * Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya * Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan * Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik * Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses 5. DERMATITIS ATOPIK (EKSIM SUSU) Dermatitis atopik adalah penyakit kulit tersering pada bayi dan anak, sering kambuh, diturunakn dalam keluarga, tidak menular dan merupakan pertanda timbulnya asma. Penyebab Belum jelas, sangat kompleks * “Eksim susu” dulu disangka penyebabnya adalah ASI, hal ini terbukti salah karena Asi justru mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi * Faktor kulit yang ekring * Faktor kebersihan diri (personal hygiene) dan kebersihan lingkungan yang kurang * Faktor hidup kurang sehat, yaitu istirahat dan asupan nutrisi yang kurang * Faktor perilaku dan emosi * Alergi terhadap makanan seperti susu, telur, ikan, kacang, coklat, jeruk dan lain-lain Gambaran klinik * Lokasi pada bayi biasanya di muka terutama kedua pipi. Pada dewasa ditengkuk, lekukan siku, lutut biasanya lebih kering * Terasa sangat gatal * Warna kulit kemerahan, ukuran kecil sebesar koin sampai dengan telapak tangan, basah atau berdarah. Setelah itu akan mengering dan menjadi keropeng, kekuningan atau kehitaman, kulit bersisik dan kering * Mudah terkena infeksi bakteri, virus atau jamur Penatalaksanaan Mencegah kekambuhan * Mencegah makanan penyebab alergi dan memberikan makanan pengganti * Cegah allergen lingkungan seperti debu rumah, tungau, serbuk-serbuk, kapuk dan lingkungan yang bersih * Kebersihan perseorangan yang terjaga (seperti kulit lembab dan bersih) * Hindari suasana sedih, kesal dan depresi Pengobatan (kolaborasi) * Hindari faktor pencetus dan pemeliharaan kulit * Obat anti gatal * Kortikosteroid salep (berikan tipis-tipis) Efek samping kortikosteroid : penipisan kulit, gangguan pertumbuhan tulang, gangguan siklus hormon 6. DIAPER RASH (RUAM POPOK) Diaper rash adalah ruam kulit akibat radang pada daerah yang tertutup popok, yaitu pada alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Berupa bercak-bercak iritasi kemerahan, kadang menebal dan bernanah. Iritasi terjadi karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik. Diaper rash juga merupakan reaksi kulit dengan amonia dari urin kontaminasi bakteri dari maternal fecal Penyebab * Sering terjadi pada usia 9-12 bulan, tidak sering mengganti pampers, modifikasi diet * Kebersihan kulit yang tidak terjaga * Udara atau suhu lingkungan yang teralu panas atau lembab * Kulit bayi masih peka sehingga mudah iritasi * Popok yang basah karena urin dan feses yang tidak segera diganti (enzim protease dan lipase) * Lebih parah pada bayi yang mengkonsumsi susu formula (pada susu formula kandungan protein lebih tinggi sehingga kadar amonia/urea lebih pekat) * Infeksi jamur Candida albicans dan infeksi bakteri Staphylococcus menyebabkan perubahan sistem imun * Popok yang mengiritasi akibat sabun, karet, plastik dan detergen yang keras * Diare sehingga menyebabkan iritasi kulit Tanda dan gejala * Iritasi pada kulit yang terkena muncuul sebagai erithema * Erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti pantat, alat kelamin, perut bawah, paha bagian atas dan lipatan-lipatan kulit * Erupsi dapat berupa bercak kering, merah dan bersisik * Keadaan lebih parah terdapat pada papila erythemetosa, vesicula dan ulcerasi * Bayi menjadi rewel karena rasa nyeri Penatalaksanaan * Menjaga kebersihan dan kelembaban daerah kulit bayi, terutama didaerah alat kelamin, bokong, lipatan selangkangan * Daerah yang terkena iritasi tidak boleh dalam keadaan basah (terbuka dan tetap kering) * Menjaga kebersihan pakaian danperlengkapan * Setiap BAB dan BAK bayi segera dibersihkan * Untuk membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus yang dioleskan dengan minyak atau sabun mild dan air hangat * Popok dicuci dengan detergen yang lembut * Mengangin-anginkan kulit sebelum pampers baru dipasang dan menggunkan pampers dengan daya serap yang tinggi dan pas pemakaiannya * Menggunakan popok yang tidak terlalu ketat (terbuka atau longgar) untuk memperbaiki sirkulasi udara. * Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit yang teriritasi * Pengobatan o Mengoleskan krim dan lotion yang mengandung zinc pada daerah yang sedang meradang o Memberikan salep/krim yang mengandung kortikosteroid 1% o Salep anti jamur dan bakteri (miconazole, ketokonazole, nystatin) 7. MILIARIASIS/SUDAMINA/LIKEN TROPIKUS/BIANG KERINGAT Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai dengan gelembung kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup pakaian (dada, punggung), tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan juga kepala. Faktor penyebab * Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang * Pakaian yang terlalu ketat, bahan tidak menyerap keringat * Aktivitas yang berlebihan * Setelah menderita demam atau panas * Penyumbatan dapat ditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan di absorbsi oleh stratum korneum Bentuk miliariasis Miliaria kristalina * Kelainan kulit berupa gelembung kecil 1-2 mm berisi cairan jernih disertai kulit kemerahan * Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian pakaian yang tertutup pakaian * Umumnya tidak menimbulkan keluhan dan sembuh dengan sisik halus * Pada keadaan histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal * Asuhan : pengobatan tidak diperlukan, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik serta menggunakan pakaian yang menyerap keringat. Miliaria rubra * Sering dialami pada anak yang tidak biasa tinggal didaerah panas * Kelainan berupa papula/gelembung merah kecil dan dapat menyebar atau berkelompok dengan rasa sangat gatal dan pedih * Staphylococcus juga diduga memiliki peranan * Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis * Asuhan : gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik, dapat diberikan bedak salicyl 2% dibubuhi menthol 0,25-2% Miliaria profunda * Timbul setelah miliaria rubra * Papula putih, kecil, berukuran 1-3 mm * Terdapat terutama di badan ataupun ekstremitas * Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinik lebih banyak berupa papula daripada vesikel * Tidak gatal, jarang ada keluhan, tidak ada dasar kemerahan, bentuk ini jarang ditemui * Pada keadaan histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis bagian atas atau tanpa infiltrasi sel radang * Asuhan : hindari panas dan lembab berlebihan, mengusahakan regulasi suhu yang baik, menggunakan pakaian yang tipis, pemberian losio calamin dengan atau tanpa menthol 0,25% dapat pula resorshin 3% dalam alkohol Penatalaksanaan * Perawatan kulit yang benar * Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil atau bedak kocok setelah mandi * Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang terbentuk memperparah sumbatan kelenjar * Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotik * Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih, sehingga tidak menggores kulit saat menggaruk) 8. DERMATITIS SEBOROIK/CRADLE CAP Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronik yang berhubungan dengan kelenjar sebaseus. Dermatitis seboroik juga merupakan kerak pada kulit kepala bayi yang disebabkan oleh vernix kaseosa yang tidak bersih dan dapat terinfeksi staphylococcus. Penyakit ini biasanya dimulai dari kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan badan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan konstitusionil dan sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita yang mengalami penyakit ini terjadi pada kulit yang berlemak (sebaseus), tetapi bagaimana hubungan antara kelenjar lemak dengan penyakit ini masih belum jelas. Ada yang menganggap bahwa kambuhnya penyakit ini akibat makanan yang berlemak, makanan berkalori tinggi, minuman beralkohol dan gangguan emosi. Penyebab * Kurang jelas * Berkaitan dengan sistem imun dan hygiene yang buruk * Karena adanya vernix kaseosa/lemak pada kepala bayi yang kemudian terinfeksi staphylococcus * Sering terjadi pada penderita HIV-AIDS dan anak-anak Gejala * Semacam noda berwarna kuning yang berminyak, bersisik, yang kemudian mengeras dan akhirnya menjadi semacam kerak. Kerak ini sering timbul di kulit kepala (cradle cap), kadang di alis/bulu mata dan telinga. * Exudat seborrhoic pada kulit kepala (masalah kosmetik) Diagnosis banding Atopik dermatitis dengan gejala eritema, edema eksudasi, krusta dan bersisik terutama pada bayi muda. Penatalaksanaan * Oleskan atau basahi kerak dengan baby oil atau vaselin selama 24 jam, sesudah itu urut pelan-pelan kulit kepala yang berkerak itu dengan handuk lembut hingga kerak mengelupas * Mengeluarkan kerak yang tersangkut di rambut dengan hati-hati (dicukur untuk memudahkan perawatan) * Dapat juga digunakan sikat rambut yang lembut, sisir yang halus atau kapas untuk menghindari iritasi pada kulit kepala bayi * Pada keadaan tertentu dapat diberi kortikosteroid, antifungi dan antibiotika tropical * Menjaga kebersihan bayi dengan memandikan dan mencuci rambutnya dengan shampo khusus untuk bayi atau shampo anti seboroik 9. BERCAK MONGOL Bercak mongol adalah bercak kebiruan, kehitaman atau kecoklatan yang lebar, difus, terdapat didaerah bokong atau lumbosakral yang akan menghilang setelah beberapa bulan atau tahun. Bercak mongol adalah pigmentasi yang datar dan berwarna gelap didaerah pinggang bawah dan bokong yang ditemukan pada saat lahir pada beberapa bayi yang akan menghilang secara perlaan-lahan selama tahun pertama. Patofisiologi Bercak mongol rata-rata muncul pada umur kehamilan 38 minggu. Mula-mula terbatas di fossa koksigea lalu menjalar ke regio lumbosakral. Tempat lain yaitu didaerah orbita : sclera atau fundus mata dan daerah zigomaticus (nevus ota), daerah deltotrapezeus (nevus ito). Nevus ota dan nevus ito biasanya menetap, tidak perlu diberikan pengobatan, cukup dengan tindakan konservatif saja. Namun bila penderita telah dewasa, pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika. Akhir-akhir ini dianjurkan pengobatan dengan sinar laser. Penyebab * Belum jelas * Timbulnya bercak akibat ditemukannya lesi yang berisi sel melanosit pada lapisan dalam dermis atau sekitar folikel rambut Penatalaksanaan * Bercak mongol biasanya akan menghilang setelah beberapa pekan sampai 1 tahun, sehingga tidak perlu pengobatan dan cukup dilakukan tindakan konservatif * Informasikan kepada keluarga untuk mengurangi kekhawatiran/kecemasan * Pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika 10. HEMANGIOMA (TUMOR JINAK DI KULIT) * adalah malformasi vascular local yang disebut juga nevi vascular atau hemangima yang sering ditemukan pada kelopak mata atas neonatus. * Adalah tumor jinak atau hamartoma/gumpalan yang terjadi akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan dapat terjadi disegala organ seperti hati, limfa, otak, tulang dan kulit * Kelainan yang terjadi pada kulit akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah yang terletak di superficial (kutan), subkutan atau campuran. Penyebab * Masih belum jelas * Timbulnya hemangioma dikarenakan pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel Jenis hemangioma * Hemangioma kapiler Terdiri dari pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel. Bila menghilang terjadi gangguan fibrotik Terdiri atas : * Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus) * Granuloma piogenik * Cherry spot (ruby-spot), angioma senilis * Hemangioma kavernosa Berasal dari lapisan dermis bagian bawah, disertai rongga-rongga besar yang tidak teratur dan berisi darah Terdiri atas : * Hemangioma kavernosum (hemangioma matang) * Hemangioma keratotik * Hemangioma vaskular * Telangiektasis o Nevus flameus o Angiokeratoma o Spider angioma Tipe hemangioma kutan pada kelopak mata neonatus * Hemangioma telangietaksis dasar tipis (flat telang relatic hemangiomas) * Hemangioma yang menonjol berupa kapiler, kaverna atau campuran (hemangioma besar : proptosis sampai dengan trelihat dibawah konjungtiva tarsal) Gejala klinis Hemangioma kapiler * Strawberry hemangioma (hemangioma simpleks) Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari sesudah lahir. Tampak sebagai bercak merah yang semakin lama semakin besar. Warnanya menjadi merah menyala, tegang dan berbentuk lobular, berbatas tegas, tegang dan keras pada perabaan. Ukuran dan dalamnya sangat bervariasi, ada yang superfisial berwarna merah terang dan ada yang subkutan berwarna kebiruan. Involusi kurang tegang dan lebih mendatar. * Granuloma piogenik Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi bukan oleh karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi biasanya soliter, dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh yang sering mengalami trauma. Mula-mula berbentuk papul sritematosa dengan pembesaran yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai pembesaran 1 cm dan dapat bertangkai. Lesi mudah berdarah. Hemangioma kavernosum Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eriternatosa atau nodus yang berwarna merah sampai ungu. Bila ditekan mengempis dan akan cepat menggembung lagi apabila lepas. Lesi terdiri atas elemen vaskular yang matang. Bentuk kavernosum jarang mengadakan involusi spontan. Hemangioma campuran Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis kavernosum. Gambaran klinisnya juga terjadi atas gambaran kedua jenis tersebut. Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas inferior, biasanya unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir atau masa anak-anak. Lesi berupa tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang kemudian pada perkembangannya dapat gambaran keratotik dan verukosa. Diagnosis Secara klinis diagnosis hemangioma tidak sukar, terutama pada lesi yang khas. Gambaran klinis umum ialah adanya bercak merah yang timbul sejak lahir atau beberapa saat setelah lahir. Pertumbuhannya relatif cepat dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, warnanya merah terang bila jenis strawberry atau biru bila jenis kavernosa. Bil besar maksimum sudah tercapai, biasanya pada umur 9-12 bulan, warnanya menjadi merah gelap. Diagnosis banding Diagnosis banding ialah terhadap tumor kulit lainnya, yaitu limfangioma, higroma, lipoma, dan neurofibroma. Penatalaksanaan * Umumnya hemangioma akan menghilang dengan sendirinya * Tetapi bila terdapat prognosis yang berat lakukan rujukan dan kolaborasi dengan tenaga medis dan berikan prednison 2-3 mg/kgBB/hari selama 10-14 hari, jika hemangioma menipis/menghilang dosis diturunkan secara bertahap 11. FURUNKEL ATAU BISUL Furunkel adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh staphylococcus profunda yang berbentuk nodul-nodul lemak eritematosa dan letaknya didalam, biasanya daerah muka, pantat, leher, ketiak dan lain-lain. Nodul ini mengandung cairan yang dalam waktu beberapa hari akan mengeluarkan bahan nekrotik bernanah. Berbentuk * Furunkel (boil) * Karbunkel (furunkel multipel) Furunkel dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan terletak didaerah nasal, aksila dan telinga Penatalaksanaan * Furunkel diobati dengan drainase pembedahan, dengan kompres basah * Pemberian antibiotika sistemik 12. KANDISOSIS/MONILIASIS/ORAL TRUSH Oral trush adalah infeksi Candida yang didapat bayi melalui jalan lahir atau perkontinuitatum. Biasanya infeksi terjadi didaerah mukokutan, mulut dan bibir. Lesi berupa bercak putih yang lekat pada lidah, bibir dan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu. Infeksi ini dapat meluas ke saluran terutama di lipatan kulit, bahkan ke berbagai alat dalam. Kandidosis oral Infeksi candida pada daerah mulut, sering terjadi pada bayi normal dan makin jarang sejalan dengan pertambahan usia. Penyebab * Infeksi melalui jalan lahir pada ibu yang menderita kandidosis vagina (Candida albicans) * Infeksi silang dari penderita kandidiasis lain * Candida albicans dapat menyebabkan infeksi apabila ada faktor predisposisi * Peralatan minum terutama yang menggunakan PASI * Bayi yang mendapatkan terapi antibiotika atau immunosupresi Faktor predisposisi * Faktor endogen : perubahan fisiologik, umur, imunologik * Faktor eksogen : iklim, kebersihan, kontak dengan penderita Gejala * Terdapat bercak putih pada lidah, bibirdan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu * Jika sisa susu mudah diangkat, namun jika moniliasis sulit diangkat dan jika dilepaskan dari dasarnya akan menyebabkan basah, merah dan berdarah * Diagnosa dapat diketahui dengan sediaan hapusan yang berwarna biru metilen dan tampak miselium dan spora yang khas Pencegahan * Menghindari/menghilangkan faktor predisposisi * Setiap bayi selesai minum susu berikan 1-2 sendok teh air matang untuk membilas sisa susu dalam mulut bayi * Pemeliharaan kebersihan mulut dan perawatan payudara Komplikasi * Kesukaran minum dapat mengakibatkan kekurangan makanan * Diare bila tidak diobati dapat menjadi penyebab dehidrasi Penatalaksanaan * Membersihkan mulut dan lidah yang dibasahi air matang hangat * Kandidiasis pada bayi sehat biasanya sembuh sendiri, tapi lebih baik diobati * Beri gentian violet 0,5% dioleskan pada luka didalam mulut /bibir * Nistatin 100.000 U dioleskan 3x sehari atau dalam bentuk tetes kedalam mulut bayi, pemberian nistatin tidak boleh lebih dari 7 hari. * Mengolesi puting susu dengan cream nistatin/gentian violet setiap selesai menyusui selama bayi diobati 13. IKTERUS FISIOLOGIS Ikterus fisiologis adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dalam satu minggu pertama kehidupannya. Pada hari ke 2-3 dan puncaknya di hari ke 5-7, kemudian akan menurun pada hari ke 10-14, peningkatannya tidak melebihi 10 mg/ddl pada bayi atterm dan < 12 mg/dl pada bayi permatur. Keadaan ini masih dalam batas normal. Manifestasi klinis Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dengan cahaya sinar matahari. Salah satu cara pemeriksaan derajat kuning pada BBL secara klinis, sederhana dan mudah adalah dengan penilaian menurut Kramer (1969). Caranya dengan jari telunjuk ditekankan kepada tempat-tempat yang tulangnya menonjol seperti hidung, dada, lutut dan lain-lain. Tempat yang ditekan akan tampak pucat atau kuning. Penilaian bilirubin pada masing-masing tempat tersebut disesuaikan dengan tabel derajat ikterus menurut kramer (1969). Zona Bagian tubuh yang kuning Rata2 serum bilirubin indirek (umol/l) 1 Kepala dan leher 100 2 Pusat-leher 150 3 Pusat-paha 200 4 Lengan+tungkai 250 5 Tangan+kaki >250
Tanda dan gejala
Warna ikterus (kuning) pada kulit, konjungtiva dan mukosa
Pencegahan
* Pengawasan ANC yang baik
* Menghindari pemberian obat-obatan pada masa kehamilan seperti sulfanamida dan lain-lain
* Pemberian ASI sedini mungkin (early feeding)
o Mempercepat metabolisme bilirubin, yaitu dengan menambahkan glukosa yang terdapat dalam ASI
o Pengeluaran bilirubin
Protein albumin dalam ASI merupakan transportasi bilirubin, albumin mengikat bilirubin agar mempermudah proses ekstraksi bilirubin jaringan kedalam plasma. Hal ini mengakibatkan bilirubin plasma meningkat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin ada dalam ikatan albumin.
Penatalaksanaan
* Pemberian ASI yang adekuat
Anjurkan ibu menyusui sesuai dengan keinginan bayinya, paling tidak setiap 2-3 jam
* Jemur bayi dalam keadaan telanjang dengan sinar matahari pukul 7-9 pagi
Pemberian terapi sinar matahari sehingga bilirubin diubah menajdi isomer foto yang tidak toksik dan mudah dikeluarkan tubuh karena mudah larut dalam air
Tujuan utama penatalaksaan ikterus fisiologis adalah mengendalikan agar kadar bilirubin tidak meningkat 4-5 mg/dl dalam 24 jam, karen adapat menyebabkan ensefalopati bilirubin yaitu bilirubin indirek (tak terkonjugasi) akan direabsorpsi kembali melalui sirkulasi enterohepatik ke aliran darah dan menembus sawar otak yang akan menimbulkan bayi lethargi, kejang, bayi malas menghisap dan malas minum.
Kamis, 14 Oktober 2010
Faktor-faktor yang mempengaruhi Tumbuh Kembang
A. Faktor Dalam (Internal)
Ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, genetik, kelainan kromosom
B. Faktor Luar (Eksternal)
Faktor Prenatal: Gizi, mekanis (posisi bayi), toksin/zat kimia(talidomit menyebabkan palatoskisis, radiasi: radium dan sinar rontgent menyebabkan RM,spina bivida, kel. jantung), infeksi, kelainan imunologi: hyperbilirubinemia, kern ikterus, anoreksia embrio, psikologi ibu
Faktor Persalinan: Komplikasi persalinan (trauma kepala, asphyksia)
Faktor Pasca Salin: Gizi, penyakit kronis/kelainan konginetal, lingkungan fisik dan kimia, psikologis, endokrin, sosio ekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, obat-obatan
CIRI-CIRI TUMBUH KEMBANG ANAK
1. Perkembangan menimbulkan perubahan
2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya
3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
4. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
6. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG NEONATUS, BAYI DAN BALITA
PERTUMBUHAN Adalah Bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
PERKEMBANGAN Adalah Bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
Ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, genetik, kelainan kromosom
B. Faktor Luar (Eksternal)
Faktor Prenatal: Gizi, mekanis (posisi bayi), toksin/zat kimia(talidomit menyebabkan palatoskisis, radiasi: radium dan sinar rontgent menyebabkan RM,spina bivida, kel. jantung), infeksi, kelainan imunologi: hyperbilirubinemia, kern ikterus, anoreksia embrio, psikologi ibu
Faktor Persalinan: Komplikasi persalinan (trauma kepala, asphyksia)
Faktor Pasca Salin: Gizi, penyakit kronis/kelainan konginetal, lingkungan fisik dan kimia, psikologis, endokrin, sosio ekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, obat-obatan
CIRI-CIRI TUMBUH KEMBANG ANAK
1. Perkembangan menimbulkan perubahan
2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya
3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
4. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
6. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG NEONATUS, BAYI DAN BALITA
PERTUMBUHAN Adalah Bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
PERKEMBANGAN Adalah Bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
kondisi yang membuat kedaruratan pada neonatus
1. Hipotermia
Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.
Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 250C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis, kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.
Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal bayi dengan hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada hipotermia. Tanda-tanda klinis hipotermia:
a. Hipotermia sedang (suhu tubuh 320C - <360C ), tanda-tandanya antara lain : kaki teraba dingin, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata.
b. Hipotermia berat (suhu tubuh < 320C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan hipotermia sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung lambat, terkadang disertai hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
c. Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)
2. Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah kondisi akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang mempunyai panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak terkendali dan menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi negative obat jarang terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi maligna yang merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.
Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuangan panas, bibir bengkak. Tanda-tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan serangan panas dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah. Hal ini dapat menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba. Tachycardia dan tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan jantung. Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengakibatkan kulit pucat atau warna kebiru-biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke panas. Beberapa korban, terutama anak-anak kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya, sebagai organ tubuh mulai gagal, ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.
3. Hiperglikemia
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam plasma darah berlebihan.
Hiperglikemia disebabkan oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia biasanya disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi insulin pada sel. Kadar insulin rendah dan / atau resistensi insulin tubuh disebabkan karena kegagalan tubuh mengkonversi glukosa menjadi glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak mungkin untuk menghilangkan kelebihan glukosa dari darah.
Gejala hiperglikemia antara lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri (sering buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit terjadi penyembuhan luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi (pria), infeksi berulang, kussmaul hiperventilasi, arrhythmia, pingsan, koma.
4. Tetanus neonaturum
Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang disebabkan karena basil klostridium tetani.
Tanda-tanda klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut mencucu seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang menangis) dan sering kejang disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan : bersihkan jalan napas, longgarkan atau buka p akaian bayi, masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut bayi, ciptakan lingkungan yang tenang dan berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.
5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil
Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis gravidarum, abortus, kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga uterus), molahidatidosa (proliferasi abnormal dari vili khorialis).
Kehamilan Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre eklampsi, eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya plasenta dari tempat implantasi), plasenta previa (implantasi plasenta terletak antara atau pada daerah serviks), insertio velamentosa, ruptur sinus marginalis, plasenta sirkumvalata).
Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.
Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 250C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis, kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.
Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal bayi dengan hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada hipotermia. Tanda-tanda klinis hipotermia:
a. Hipotermia sedang (suhu tubuh 320C - <360C ), tanda-tandanya antara lain : kaki teraba dingin, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata.
b. Hipotermia berat (suhu tubuh < 320C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan hipotermia sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung lambat, terkadang disertai hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
c. Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)
2. Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah kondisi akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang mempunyai panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak terkendali dan menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi negative obat jarang terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi maligna yang merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.
Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuangan panas, bibir bengkak. Tanda-tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan serangan panas dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah. Hal ini dapat menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba. Tachycardia dan tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan jantung. Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengakibatkan kulit pucat atau warna kebiru-biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke panas. Beberapa korban, terutama anak-anak kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya, sebagai organ tubuh mulai gagal, ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.
3. Hiperglikemia
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam plasma darah berlebihan.
Hiperglikemia disebabkan oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia biasanya disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi insulin pada sel. Kadar insulin rendah dan / atau resistensi insulin tubuh disebabkan karena kegagalan tubuh mengkonversi glukosa menjadi glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak mungkin untuk menghilangkan kelebihan glukosa dari darah.
Gejala hiperglikemia antara lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri (sering buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit terjadi penyembuhan luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi (pria), infeksi berulang, kussmaul hiperventilasi, arrhythmia, pingsan, koma.
4. Tetanus neonaturum
Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang disebabkan karena basil klostridium tetani.
Tanda-tanda klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut mencucu seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang menangis) dan sering kejang disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan : bersihkan jalan napas, longgarkan atau buka p akaian bayi, masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut bayi, ciptakan lingkungan yang tenang dan berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.
5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil
Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis gravidarum, abortus, kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga uterus), molahidatidosa (proliferasi abnormal dari vili khorialis).
Kehamilan Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre eklampsi, eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya plasenta dari tempat implantasi), plasenta previa (implantasi plasenta terletak antara atau pada daerah serviks), insertio velamentosa, ruptur sinus marginalis, plasenta sirkumvalata).
ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN
Jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan. Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :
1. Caput Suksadenum
Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.
Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.
2. Sefalhematoma
Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.
3. Trauma pleksus brakialis
Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.
Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.
Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.
4. Fraktur klavikula
Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.
5. Fraktur humerus
Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.
Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.
TUGAS !
1. Carilah informasi mengenai jejas persalinan (terutama yang ada pada silabus)
2. Lengkapi pengetahuan anda mengenai paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke
3. Buatlah rangkuman dan kumpulkan satu minggu dari pemberian tugas
4. Kumpulkan rangkuman anda dalam bentuk softfile melalui email dengan alamat miedha_74@yahoo.co.id
5. Kumpulkan rangkuman anda dalam bentuk tulisan tangan kepada mbak erika di bagian akademik DIV Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS di Bagian Histologi FK UNS
6. Terima kasih dan selamat mengerjakan
7. Lampirkankan printout materi perkuliahan ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN
8. Pelajari materi KELAINAN BAWAAN PADA NEONATUS, BAYI, ANAK DAN BALITA
1. Caput Suksadenum
Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.
Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.
2. Sefalhematoma
Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.
3. Trauma pleksus brakialis
Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.
Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.
Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.
4. Fraktur klavikula
Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.
5. Fraktur humerus
Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.
Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.
TUGAS !
1. Carilah informasi mengenai jejas persalinan (terutama yang ada pada silabus)
2. Lengkapi pengetahuan anda mengenai paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke
3. Buatlah rangkuman dan kumpulkan satu minggu dari pemberian tugas
4. Kumpulkan rangkuman anda dalam bentuk softfile melalui email dengan alamat miedha_74@yahoo.co.id
5. Kumpulkan rangkuman anda dalam bentuk tulisan tangan kepada mbak erika di bagian akademik DIV Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS di Bagian Histologi FK UNS
6. Terima kasih dan selamat mengerjakan
7. Lampirkankan printout materi perkuliahan ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN
8. Pelajari materi KELAINAN BAWAAN PADA NEONATUS, BAYI, ANAK DAN BALITA
Asuhan Antenatal
Asuhan antenatal meliputi :
1.Pengkajian (Anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetrik, pemeriksaan
penunjang)
2.Menentukan diagnosa kehamilan, Mengidentifikasi masalah
3.Menetapkan perencanaan asuhan
4.Melaksanakan asuhan
5.Melaksanakan evaluasi
1. Anamnesa
Sebelum Bidan memberikan asuhan antenatal, terlebih dahulu klien diminta persetujuan atau informed consent. Informed conset sangat penting untuk mencegah terjadinya konflik dalam masalah etik. Informed consent adalah persetujuan sepenuhnya yang diberikan oleh klien atau pasien atau walinya kepada petugas kesehatan (bidan) untuk melakukan tindakan sesuai kebutuhan (IBI, 2003).
Tujuan anamnesa yaitu :
a.mengetahui keadaan kesehatan dan keluhan yang dirasakan ibu
b.konseling persiapan kelahiran, penkes pengambilan keputusan untuk rujukan
c.memberikan bimbingan dalam membangun keluarga sejahtera
a. Kunjungan awal
Kunjungan pertama merupakan kesempatan untuk membuat ibu merasa nyaman berbicara tentang dirinya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi yang yang dibutuhkan bidan, hendaknya ditumbuhkan rasa nyaman. Rasa nyaman pada ibu dapat ditumbuhkan jika :
1.pemeriksaan dilaksanakan di tempat tertutup sehingga bersifat pribadi dan rahasia
terjaga
2.apa yang disampaikan klien atau ibu diperhatikan dengan baik
3.pertanyaan klien atau ibu dijawab dengan baik
4.ibu diperlakukan dengan penuh rasa hormat
Kunjungan antenatal pertama/kunjungan awal merupakan kesempatan pertama untuk menilai keadaan kesehatan ibu dan janinnya, sekaligus menentukan kualitas interaksi antara pelaksana pelayanan dengan ibu sebagai klien di kemudian hari.
Pertanyaan yang diajukan pada kunjungan awal meliputi :
1). Identifikasi diri ibu hamil
a) Nama
Nama yang jelas dan lengkap perlu dipertanyakan serta nama panggilan
sehari-hari, ini untuk membedakan antara pasien yang satu dengan pasien
lainnya (Christina, 1998).
b) Umur
Umur yang kurang dari 20 tahun dan yang lebih dari 35 tahun termasuk
resiko tinggi dalam kehamilan (Mochtar, 1998).
c) Pekerjaan
Bekerja yang berlebih-lebihan dan memerlukan tenaga yang banyak harus
dicegah. Kerja berat mudah menimbulkan kelelahan yang akan mengurangi
kesehatan wanita yang memang sudah menurun karena adanya kehamilan
(Cunningham, 2006).
d) Suku/ bangsa
Perlu dikaji untuk mengetahui bahasa yang digunakan, agar mempermudah dalam
komunikasi dengan pasien. Jika seorang wanita yang mempunyai rhesus
negative menikah dengan laki-laki rhesus positif/ negative, jika positif
sel darahnya mungkin melewati plasenta selama kehamilan/ persalinan. Rhesus
terjadi pada wanita Afrika dan Asia Tenggara (Derek, 2002).
e).Pendidikan
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi sikap dan perilaku kesehatan, dikaji
untuk mempermudah dalam memberikan asuhan masa nifas yang sesuai pada pasien
f). Alamat
Untuk mengetahui pasien tinggal dimana dan untuk meng-hindari kekeliruan bila ada 2 pasien dengan nama yang sama atau untuk keperluan kunjungan rumah.
2). Riwayat Kesehatan meliputi :
a). Adakah riwayat penyakit pada sistem kardiovaskuler
b). Adakah riwayat hipertensi
c). Adakah riwayat penyakit diabetes
d). Adakah riwayat penyakit malaria
e). Adakah riwayat penyakit menular seksual, seperti : HIV/ AIDS, sifilis, gonorhoe, dll.
3). Riwayat Kebidanan
a). Riwayat Menstruasi meliputi :
• Menarche
• Volume darah menstruasi
• Siklus
• Keluhan saat menstruasi
• Lama menstruasi
• HPMT
• HPL
b). Riwayat Kehamilan sekarang meliputi :
• Keluhan umum yang dirasakan ibu selama hamil
• Kapan ibu pertama kali merasakan gerakan janin
• Berapa kali dalam sehari ibu merasakan gerakan janin
• Adakah tanda bahaya atau penyulit yang dialami ibu selama hamil
• Adakah obat/ jamu yang dikonsumsi ibu selama hamil
• Adalah kekhawatiran khusus yang dirasakan ibu mengenai kehamilannya
• Kapan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil
• Apakah ibu sudah mendapatkan tablet besi dan bagaimana pola konsumsinya ?
c). Riwayat kehamilan yang lalu meliputi :
• Jumlah kehamilan
• Jumlah anak yang lahir hidup
• Jumlah kelahiran prematur
• Jumlah keguguran
• Riwayat persalinan (normal. SC, vorcep, vakum)
• Riwayat perdarahan pada persalinan dan pasca persalinan
• Kehamilan dengan tekanan darah tinggi
• Berat bayi lahir < 2,5 kg atau >4kg
• Umur anak terkecil
• Untuk primigravida, lama kawin dan umur pertama kali kawin
d). Riwayat kesehatan keluarga meliputi :
• Adakah riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita pentakit menular (misal TBC)
• Adakah riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita pentakit menurun (misal DM)
e). Riwayat sosial ekonomi meliputi :
• Status perkawinan
• Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
• Riwayat KB
• Dukungan keluarga
• Pengambil keputusan dalam keluarga
• Gizi yang dikonsumsi dan kebiasaan makan yang difokuskan pada vit A dan zat besi
• Kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merikok, minum obat atau alkohol
• Beban kerja dan kegiatan sehari-hari
• Tempat dan petugas kesehatan yang diinginkan untyk membantu persalinan
2. Pemeriksaan Fisik
Tekhnik pemeriksaan fisik pada ibu hamil menggunakan empat cara yaitu inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan fisik dilakukan dari ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe). Pemeriksaan fisik meliputi :
1. Kesan umum : tingkat kesadaran (composmentis), penampilan ( tampak sakit atau sehat)
2. Mengukur tinggi badan dan berat badan
Secara umum perlu dikaji untuk mengetahui adanya resiko kehamilan yang berhubungan dengan tinggi badan (normal > 145cm). Bandingkan kenaikan BB sebelum hamil dengan setelah hamil.
3. Lingkar lengan
Perlu dikaji untuk mengetahui status gizi ibu
4. Mengukur tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi nafas, suhu tubuh
5. Memeriksa daerah kepala dan leher
a. Memeriksa apakah rambut ibu sehat, adakah ketombe, adakah kutu, apakah mudah rontok
b. Memeriksa adakah odeme di wajah ibu, adakah cloasma gravidarum di wajah ibu
c. Memeriksa apakah kelopak mata ibu tampak pucat, apakah terdapat warna kuning pada sklera mata ibu
d. Memeriksa apakah telinga bersih, adakah kelainan pada telinga
e. Memeriksa adakah sariawan, apakah ada caries dentis, apakah gusi mudah berdarah
f. Meraba leher apakah ada pembesaran kelenjar tyroid
6. Memeriksa daerah dada
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
7. Pemeriksaan Obstetri
a. Inspeksi
1) Muka : Apakah ada cloasma gravidarum, apakah muka tampak
pucat. (Wiknjosatro, 2002)
2) Mammae : Ada hiperpigmentasi aerola, bagaimana keadaan
payudara tampak tegang dan membesar puting susu
menonjol.
3) Abdomen : Apakah ada bekas luka operasi, ada striae gravidarum
atau tidak.
4) Genetalia : Adakah pembesaran kelenjar bartholini, adakah
condiloma akuminata, abnormal ataupun tanda kelainan
lain.
b. Palpasi
Menurut Mochtar (1998) :
1) Mammae
Adakah benjolan atau teraba panas, bagaimana konsistensi Payudara. Memeriksa letaknya simetris atau tidak, putingnya menonjol atau masuk ke dalam, kolostrum sudah keluar apa belum. Memeriksa adakah massa
2) Abdomen
Memeriksa adakah luka bekas opersai.Palpasi yang digunaka adalah menurut leopold. Melakukan palpasi untuk menentukan letak, presentasi, posisi, penurunan kepala janin (UK >36 minggu)
Leopold I
Untuk mengukur TFU (menentukan usia kehamilan ) dan mengetahui bagian janin yang berada di fundus. Mengukur tinggi fundus uteri menggunakan tangan (UK >12 menggu) atau metlyn (UK > 22minggu)
Leopold 2
Untuk mengetahui bagian janin yang berada di sebelah kanan dan kiri ibu
Leopold 3
Untuk mengetahui bagian terbawah janin
Leopold 4
Untuk mengetahui seberapa jauh bagian terbawah janin masuka pintu
atas panggul
a.Menghitung DJJ dengan doppler jika UK > 18 minggu
8.Memeriksa tangan dan kaki
b.Memeriksa apakah tangan dan kaki terdapat edema
c.Memeriksa dan meraba kaki untuk mengetahui adanya varises
d.Memeriksa reflek patella
9.Pemeriksaan panggul
e.Distansia spinarum : jarak antara spina iliaca anterior superior kiri-kanan (23 cm)
f.Distansia cristarum : jarak terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri (26 cm)
g.Conjugata externa : jarak antara pinggir atas symfisis dan ujung procesus ruas tulang lumbal kelima
h.Langkar panggul : dari pinggir atas symfisis ke pertengahan anatar spina iliaca anterior dan trochanter mayor sepihak dan kembali melalui tempat yang sama dipihak lain (80 cm)
10.Pemeriksaan genetalia
Genetalai luar meliputi :
i.Pemeriksaan genital luar : adakah luka pada labia mayora, labia minora, klitoris, lubang uretra maupun introitus vagina
j.Memeriksa adakah varises pada vulva
k.Memeriksa adakah cairan yag keluar (warna, konsistensi, jumlah, bau)
l.Memeriksa adakah pembengkakan kelenjar bartholini
Genetalia dalam (dengan spekulun) meliputi :
a.Memeriksa adakah luka pada serviks
b.Memeriksa apakah serviks sudah membuka apa belum
c.Memeriksa apakah ada pengeluaran cairan atau darah
Pemeriksaan Labolatorim meliputi :
a.Uji kehamilan (HCG)
Untuk memastikan kehamilan bila ibu terlambat datang bulan minimal 2 minggu. Hasil positif bila konsentrasi HCG dalam urine mencapai 25 IU. Hasil positif palsu dapat tdrjadi karena rendahnya konsentrasi HCG akiabat urine terlalu encer, tanggal yang tidak akurat, kehamilan ektopik. Urine yang diambil adalah urine pagi hari setelah bangun tidur dan yang pertama kali keluar.
b.Glukosa urine
Untuk mendeteksi penyakit diabetes gestasional. Urine yang diambil adalah urin sewaktu yang tidak boleh tercampur air.
c.Protein Urine
Untuk mendeteksi pre eklamsi. Urine yang digunakan adalah urine sewaktu.
d.Hemoglobin
Untuk mendeteksi adanya anemia yaitu turunnya kadar hemoglobin kurang dari 12,0 g/100 ml darah.
1.Pengkajian (Anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetrik, pemeriksaan
penunjang)
2.Menentukan diagnosa kehamilan, Mengidentifikasi masalah
3.Menetapkan perencanaan asuhan
4.Melaksanakan asuhan
5.Melaksanakan evaluasi
1. Anamnesa
Sebelum Bidan memberikan asuhan antenatal, terlebih dahulu klien diminta persetujuan atau informed consent. Informed conset sangat penting untuk mencegah terjadinya konflik dalam masalah etik. Informed consent adalah persetujuan sepenuhnya yang diberikan oleh klien atau pasien atau walinya kepada petugas kesehatan (bidan) untuk melakukan tindakan sesuai kebutuhan (IBI, 2003).
Tujuan anamnesa yaitu :
a.mengetahui keadaan kesehatan dan keluhan yang dirasakan ibu
b.konseling persiapan kelahiran, penkes pengambilan keputusan untuk rujukan
c.memberikan bimbingan dalam membangun keluarga sejahtera
a. Kunjungan awal
Kunjungan pertama merupakan kesempatan untuk membuat ibu merasa nyaman berbicara tentang dirinya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi yang yang dibutuhkan bidan, hendaknya ditumbuhkan rasa nyaman. Rasa nyaman pada ibu dapat ditumbuhkan jika :
1.pemeriksaan dilaksanakan di tempat tertutup sehingga bersifat pribadi dan rahasia
terjaga
2.apa yang disampaikan klien atau ibu diperhatikan dengan baik
3.pertanyaan klien atau ibu dijawab dengan baik
4.ibu diperlakukan dengan penuh rasa hormat
Kunjungan antenatal pertama/kunjungan awal merupakan kesempatan pertama untuk menilai keadaan kesehatan ibu dan janinnya, sekaligus menentukan kualitas interaksi antara pelaksana pelayanan dengan ibu sebagai klien di kemudian hari.
Pertanyaan yang diajukan pada kunjungan awal meliputi :
1). Identifikasi diri ibu hamil
a) Nama
Nama yang jelas dan lengkap perlu dipertanyakan serta nama panggilan
sehari-hari, ini untuk membedakan antara pasien yang satu dengan pasien
lainnya (Christina, 1998).
b) Umur
Umur yang kurang dari 20 tahun dan yang lebih dari 35 tahun termasuk
resiko tinggi dalam kehamilan (Mochtar, 1998).
c) Pekerjaan
Bekerja yang berlebih-lebihan dan memerlukan tenaga yang banyak harus
dicegah. Kerja berat mudah menimbulkan kelelahan yang akan mengurangi
kesehatan wanita yang memang sudah menurun karena adanya kehamilan
(Cunningham, 2006).
d) Suku/ bangsa
Perlu dikaji untuk mengetahui bahasa yang digunakan, agar mempermudah dalam
komunikasi dengan pasien. Jika seorang wanita yang mempunyai rhesus
negative menikah dengan laki-laki rhesus positif/ negative, jika positif
sel darahnya mungkin melewati plasenta selama kehamilan/ persalinan. Rhesus
terjadi pada wanita Afrika dan Asia Tenggara (Derek, 2002).
e).Pendidikan
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi sikap dan perilaku kesehatan, dikaji
untuk mempermudah dalam memberikan asuhan masa nifas yang sesuai pada pasien
f). Alamat
Untuk mengetahui pasien tinggal dimana dan untuk meng-hindari kekeliruan bila ada 2 pasien dengan nama yang sama atau untuk keperluan kunjungan rumah.
2). Riwayat Kesehatan meliputi :
a). Adakah riwayat penyakit pada sistem kardiovaskuler
b). Adakah riwayat hipertensi
c). Adakah riwayat penyakit diabetes
d). Adakah riwayat penyakit malaria
e). Adakah riwayat penyakit menular seksual, seperti : HIV/ AIDS, sifilis, gonorhoe, dll.
3). Riwayat Kebidanan
a). Riwayat Menstruasi meliputi :
• Menarche
• Volume darah menstruasi
• Siklus
• Keluhan saat menstruasi
• Lama menstruasi
• HPMT
• HPL
b). Riwayat Kehamilan sekarang meliputi :
• Keluhan umum yang dirasakan ibu selama hamil
• Kapan ibu pertama kali merasakan gerakan janin
• Berapa kali dalam sehari ibu merasakan gerakan janin
• Adakah tanda bahaya atau penyulit yang dialami ibu selama hamil
• Adakah obat/ jamu yang dikonsumsi ibu selama hamil
• Adalah kekhawatiran khusus yang dirasakan ibu mengenai kehamilannya
• Kapan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil
• Apakah ibu sudah mendapatkan tablet besi dan bagaimana pola konsumsinya ?
c). Riwayat kehamilan yang lalu meliputi :
• Jumlah kehamilan
• Jumlah anak yang lahir hidup
• Jumlah kelahiran prematur
• Jumlah keguguran
• Riwayat persalinan (normal. SC, vorcep, vakum)
• Riwayat perdarahan pada persalinan dan pasca persalinan
• Kehamilan dengan tekanan darah tinggi
• Berat bayi lahir < 2,5 kg atau >4kg
• Umur anak terkecil
• Untuk primigravida, lama kawin dan umur pertama kali kawin
d). Riwayat kesehatan keluarga meliputi :
• Adakah riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita pentakit menular (misal TBC)
• Adakah riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita pentakit menurun (misal DM)
e). Riwayat sosial ekonomi meliputi :
• Status perkawinan
• Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
• Riwayat KB
• Dukungan keluarga
• Pengambil keputusan dalam keluarga
• Gizi yang dikonsumsi dan kebiasaan makan yang difokuskan pada vit A dan zat besi
• Kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merikok, minum obat atau alkohol
• Beban kerja dan kegiatan sehari-hari
• Tempat dan petugas kesehatan yang diinginkan untyk membantu persalinan
2. Pemeriksaan Fisik
Tekhnik pemeriksaan fisik pada ibu hamil menggunakan empat cara yaitu inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan fisik dilakukan dari ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe). Pemeriksaan fisik meliputi :
1. Kesan umum : tingkat kesadaran (composmentis), penampilan ( tampak sakit atau sehat)
2. Mengukur tinggi badan dan berat badan
Secara umum perlu dikaji untuk mengetahui adanya resiko kehamilan yang berhubungan dengan tinggi badan (normal > 145cm). Bandingkan kenaikan BB sebelum hamil dengan setelah hamil.
3. Lingkar lengan
Perlu dikaji untuk mengetahui status gizi ibu
4. Mengukur tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi nafas, suhu tubuh
5. Memeriksa daerah kepala dan leher
a. Memeriksa apakah rambut ibu sehat, adakah ketombe, adakah kutu, apakah mudah rontok
b. Memeriksa adakah odeme di wajah ibu, adakah cloasma gravidarum di wajah ibu
c. Memeriksa apakah kelopak mata ibu tampak pucat, apakah terdapat warna kuning pada sklera mata ibu
d. Memeriksa apakah telinga bersih, adakah kelainan pada telinga
e. Memeriksa adakah sariawan, apakah ada caries dentis, apakah gusi mudah berdarah
f. Meraba leher apakah ada pembesaran kelenjar tyroid
6. Memeriksa daerah dada
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
7. Pemeriksaan Obstetri
a. Inspeksi
1) Muka : Apakah ada cloasma gravidarum, apakah muka tampak
pucat. (Wiknjosatro, 2002)
2) Mammae : Ada hiperpigmentasi aerola, bagaimana keadaan
payudara tampak tegang dan membesar puting susu
menonjol.
3) Abdomen : Apakah ada bekas luka operasi, ada striae gravidarum
atau tidak.
4) Genetalia : Adakah pembesaran kelenjar bartholini, adakah
condiloma akuminata, abnormal ataupun tanda kelainan
lain.
b. Palpasi
Menurut Mochtar (1998) :
1) Mammae
Adakah benjolan atau teraba panas, bagaimana konsistensi Payudara. Memeriksa letaknya simetris atau tidak, putingnya menonjol atau masuk ke dalam, kolostrum sudah keluar apa belum. Memeriksa adakah massa
2) Abdomen
Memeriksa adakah luka bekas opersai.Palpasi yang digunaka adalah menurut leopold. Melakukan palpasi untuk menentukan letak, presentasi, posisi, penurunan kepala janin (UK >36 minggu)
Leopold I
Untuk mengukur TFU (menentukan usia kehamilan ) dan mengetahui bagian janin yang berada di fundus. Mengukur tinggi fundus uteri menggunakan tangan (UK >12 menggu) atau metlyn (UK > 22minggu)
Leopold 2
Untuk mengetahui bagian janin yang berada di sebelah kanan dan kiri ibu
Leopold 3
Untuk mengetahui bagian terbawah janin
Leopold 4
Untuk mengetahui seberapa jauh bagian terbawah janin masuka pintu
atas panggul
a.Menghitung DJJ dengan doppler jika UK > 18 minggu
8.Memeriksa tangan dan kaki
b.Memeriksa apakah tangan dan kaki terdapat edema
c.Memeriksa dan meraba kaki untuk mengetahui adanya varises
d.Memeriksa reflek patella
9.Pemeriksaan panggul
e.Distansia spinarum : jarak antara spina iliaca anterior superior kiri-kanan (23 cm)
f.Distansia cristarum : jarak terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri (26 cm)
g.Conjugata externa : jarak antara pinggir atas symfisis dan ujung procesus ruas tulang lumbal kelima
h.Langkar panggul : dari pinggir atas symfisis ke pertengahan anatar spina iliaca anterior dan trochanter mayor sepihak dan kembali melalui tempat yang sama dipihak lain (80 cm)
10.Pemeriksaan genetalia
Genetalai luar meliputi :
i.Pemeriksaan genital luar : adakah luka pada labia mayora, labia minora, klitoris, lubang uretra maupun introitus vagina
j.Memeriksa adakah varises pada vulva
k.Memeriksa adakah cairan yag keluar (warna, konsistensi, jumlah, bau)
l.Memeriksa adakah pembengkakan kelenjar bartholini
Genetalia dalam (dengan spekulun) meliputi :
a.Memeriksa adakah luka pada serviks
b.Memeriksa apakah serviks sudah membuka apa belum
c.Memeriksa apakah ada pengeluaran cairan atau darah
Pemeriksaan Labolatorim meliputi :
a.Uji kehamilan (HCG)
Untuk memastikan kehamilan bila ibu terlambat datang bulan minimal 2 minggu. Hasil positif bila konsentrasi HCG dalam urine mencapai 25 IU. Hasil positif palsu dapat tdrjadi karena rendahnya konsentrasi HCG akiabat urine terlalu encer, tanggal yang tidak akurat, kehamilan ektopik. Urine yang diambil adalah urine pagi hari setelah bangun tidur dan yang pertama kali keluar.
b.Glukosa urine
Untuk mendeteksi penyakit diabetes gestasional. Urine yang diambil adalah urin sewaktu yang tidak boleh tercampur air.
c.Protein Urine
Untuk mendeteksi pre eklamsi. Urine yang digunakan adalah urine sewaktu.
d.Hemoglobin
Untuk mendeteksi adanya anemia yaitu turunnya kadar hemoglobin kurang dari 12,0 g/100 ml darah.
KEBUTUHAN NUTRISI
Kebutuhan gizi ibu hamil meningkat 15 % . Peningkatan gizi ini dibutuhkan untuk pertumbuhan ibu dan janin. Makanan dikonsumsi ibu hamil 40 untuk pertumbuhan janin dan sisanya (60 %) digunakan untuk pertumbuhan ibunya
1. Kebutuhan Nutrisi Ibu hamil Tiap Trimester
Pada umumnya kebutuhan makanan bagi ibu hamil untuk setiap trimester berbeda-beda. Hal ini berhubungan dengan kondisi ibu pada setiap trimester tersebut (Huliana, 2007).
a. Pada Trimester I
Pada kehamilan Trimester I (0-12 minggu), umumnya nafsu makan ibu berkurang, sering timbul rasa mual dan ingin muntah. Pada kondisi ini, ibu harus berusaha untuk makan agar janin dapat tumbuh dengan baik. Makan dengan porsi kecil tetapi sering, seperti sup, susu, telur, biskuit, buah segar dan jus.
b. Pada Trimester II
Pada kehamilan Trimester kedua (sampai usia 28 minggu), nafsu makan sudah pulih kembali. Kebutuhan makan harus lebih banyak dari biasanya, meliputi makan sumber tenaga, pembangun, pelindung dan pengatur. Hal ini dibutuhkan untuk pertumbuhan janin dan perubahanperubahan tubuh ibu hamil.
c. Pada Trimester III
Pada kehamilan Trimester ketiga (sampai usia 40 minggu) nafsu makan sangat baik, tetapi jangan berlebihan. Kurangi karbohidrat, tingkat protein sayur-sayuran dan buah-buahan, lemak harus tetap dikonsumsi. Selain itu kurangi makanan yang terlalu manis (seperti gula) dan terlalu asin (seperti garam, ikan asin, telur asin) karena makanan tersebut akan cenderung janin tumbuh lebih besar dan merangsang timbulnya keracunan saat kehamilan
2. Kebutuhan gizi pada ibu hamil (Paath, 2004)
a. Kebutuhan Energi
Energi yang dibutuhkan pada waktu hamil kurang lebih 2500 kalori dalam satu hari selama hamil. Pada awal kehamilan trimester I kebutuhan energi masih sedikit, tetapi pada akhir semester terjadi peningkatan. Pada trimester II energi yang dibutuhkan untuk penambah darah, perkembangan uterus, pertumbuhan janin mamae, dan penimbunan lemak. Pada trimester III energi digunakan untuk pertumbuhan janin dan
plasenta. Sumber energi adalah hidrat arang, beras, jagung, gandum,kentang, ubi jalar, ubi kayu dan sagu.
b. Kebutuhan Protein
Kebutuhan protein meningkat selama hamil, untuk perkembangan janin, penambah volume darah, pertumbuhan mamae ibu dan jaringan uterus. Jumlah protein yang dibutuhkan ibu hamil kurang lebih 76 gram dalam satu hari selama hamil. Sumber protein hewani, daging, ikan,unggas, telur, kerang. Sumber protein nabati adalah kacang–kacangan.
c. Kebutuhan Lemak
Lemak dibutuhkan sebagai sumber kalori dan untuk mendapatkan Vitamin A, D, E dan K.
d. Kebutuhan Vitamin
Beberapa vitamin yang dibutuhkan ibu hamil
1) Vitamin A
Penting untuk mata, tulang kulit, rambut dan mencegah kelainan bawaan. Sumber vitamin, minyak ikan, kuning telur, wortel sayuran berwarna hijau dan buah-buahan berwarna merah.
2) Vitamin B Komplek
Kandungan vitamin B Complek yaitu: Vitamin B1, B2, asam nikotin, B6. B12, dan asam folat.
3) Garam Mineral
Kebutuhan garam mineral bagi ibu hamil meliputi kalsium sat besi dan fosfor.
3. Gizi Seimbang
Sumber Tenaga (Sumber Energi)
a. Ibu hamil membutuhkan tambahan energi sebesar 300 kalori perhari
b. sekitar 15 % lebih banyak dari normalnya yaitu 2500 s/d 3000 kalori dalam sehari.
c. Sumber energi dapat diperoleh dari karbohidrat dan lemak.
Sumber Pembangun
a. Sumber zat pembangun dapat diperoleh dari protein.
b. Kebutuhan protein yang dianjurkan sekitar 800 gram/hari.
c. sekitar 70 % dipakai untuk kebutuhan janin dan kandungan.
Sumber Pengatur dan Pelindung
a. Sumber zat pengatur dan pelindung dapat diperoleh dari air, vitamin dan mineral.
b. Sumber ini dibutuhkan tubuh untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit dan mengatur kelancaran proses metabolisme tubuh.
Kegunaan Nutrisi pada kehamilan :
a. Pertumbuhan dan perkembangan janin
b. Mengganti sel-sel tubuh yang rusak
c. Sumber tenaga
d. Mengatur suhu tubuh dan cadangan makanan
Prinsip Nutrisi
a. Konsumsilah makanan dengan porsi yang cukup dan teratur/ seimbang
b. Hindari makanan yang terlalu asin dan pedas
c. Hindari makanan yang mengandung lemak cukup tinggi
d. Hindari makanan dan minuman yang mengandung alkohol
e. Hindari makanan yang mengandung bahan pengawet dan zat pewarna
f. Hindari merokok
Perhatikan cara mengolah makanan
a. Pilihlah sayuran dan buah-buahan yang segar dan berwarna kuning
b. Pilihlah daging dan ikan yang segar
c. Cucilah tangan yang bersih sebelum dan sesudah mengolah makanan
d. Cucilah bahan makanan yang bersih
e. Jangan memasak sayuran sampai layu
f. Konsumsilah makanan yang diolah sampai matang
g. Hindari pemakaian zat pewarna, pengawet, bumbu masak (vetsin)
h. Hindari pemakaian minyak yang sudah berkali-kali digunakan
i. Perhatikan tanggal kadaluarsa dan komposisi vitamin, mineral dan
j. tempat makanan kalengan
4. Masalah gizi yang sering terjadi pada ibu hamil (Paath, 2004).
a. Anemia gizi besi
Banyak terdapat di Indonesia sehingga para ibu hamil juga dianjurkan agar mengkonsumsi tablet zat besi atau mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi (hati ayam).
b. Kenaikan Berat Badan Selama Hamil yang Rendah
Di negara maju rata-rata kenaikan berat badan selama hamil sebesar 12-4 kg, bila ibu hamil kurang gizi, maka pertambahan berat badan hanya 7-8 kg yang mengakibatkan melahirkan bayi BBLR.
c. Masalah Ngidam (emesis gravidarum)
Bila berlebihan disebut hiperemesis (tidak normal) sehingga harus memperhatikan kebutuhan gizi. Keadaan ini berlangsung pada trimester pertama ketika janin belum tumbuh besar sehingga kebutuhan gizi ekstra belum mendesak. Pada trimester kedua dan ketiga emesis jarang terjadi lagi tetapi kebutuhan gizi ekstra untuk pertumbuhan janin sangat perlu.
1. Kebutuhan Nutrisi Ibu hamil Tiap Trimester
Pada umumnya kebutuhan makanan bagi ibu hamil untuk setiap trimester berbeda-beda. Hal ini berhubungan dengan kondisi ibu pada setiap trimester tersebut (Huliana, 2007).
a. Pada Trimester I
Pada kehamilan Trimester I (0-12 minggu), umumnya nafsu makan ibu berkurang, sering timbul rasa mual dan ingin muntah. Pada kondisi ini, ibu harus berusaha untuk makan agar janin dapat tumbuh dengan baik. Makan dengan porsi kecil tetapi sering, seperti sup, susu, telur, biskuit, buah segar dan jus.
b. Pada Trimester II
Pada kehamilan Trimester kedua (sampai usia 28 minggu), nafsu makan sudah pulih kembali. Kebutuhan makan harus lebih banyak dari biasanya, meliputi makan sumber tenaga, pembangun, pelindung dan pengatur. Hal ini dibutuhkan untuk pertumbuhan janin dan perubahanperubahan tubuh ibu hamil.
c. Pada Trimester III
Pada kehamilan Trimester ketiga (sampai usia 40 minggu) nafsu makan sangat baik, tetapi jangan berlebihan. Kurangi karbohidrat, tingkat protein sayur-sayuran dan buah-buahan, lemak harus tetap dikonsumsi. Selain itu kurangi makanan yang terlalu manis (seperti gula) dan terlalu asin (seperti garam, ikan asin, telur asin) karena makanan tersebut akan cenderung janin tumbuh lebih besar dan merangsang timbulnya keracunan saat kehamilan
2. Kebutuhan gizi pada ibu hamil (Paath, 2004)
a. Kebutuhan Energi
Energi yang dibutuhkan pada waktu hamil kurang lebih 2500 kalori dalam satu hari selama hamil. Pada awal kehamilan trimester I kebutuhan energi masih sedikit, tetapi pada akhir semester terjadi peningkatan. Pada trimester II energi yang dibutuhkan untuk penambah darah, perkembangan uterus, pertumbuhan janin mamae, dan penimbunan lemak. Pada trimester III energi digunakan untuk pertumbuhan janin dan
plasenta. Sumber energi adalah hidrat arang, beras, jagung, gandum,kentang, ubi jalar, ubi kayu dan sagu.
b. Kebutuhan Protein
Kebutuhan protein meningkat selama hamil, untuk perkembangan janin, penambah volume darah, pertumbuhan mamae ibu dan jaringan uterus. Jumlah protein yang dibutuhkan ibu hamil kurang lebih 76 gram dalam satu hari selama hamil. Sumber protein hewani, daging, ikan,unggas, telur, kerang. Sumber protein nabati adalah kacang–kacangan.
c. Kebutuhan Lemak
Lemak dibutuhkan sebagai sumber kalori dan untuk mendapatkan Vitamin A, D, E dan K.
d. Kebutuhan Vitamin
Beberapa vitamin yang dibutuhkan ibu hamil
1) Vitamin A
Penting untuk mata, tulang kulit, rambut dan mencegah kelainan bawaan. Sumber vitamin, minyak ikan, kuning telur, wortel sayuran berwarna hijau dan buah-buahan berwarna merah.
2) Vitamin B Komplek
Kandungan vitamin B Complek yaitu: Vitamin B1, B2, asam nikotin, B6. B12, dan asam folat.
3) Garam Mineral
Kebutuhan garam mineral bagi ibu hamil meliputi kalsium sat besi dan fosfor.
3. Gizi Seimbang
Sumber Tenaga (Sumber Energi)
a. Ibu hamil membutuhkan tambahan energi sebesar 300 kalori perhari
b. sekitar 15 % lebih banyak dari normalnya yaitu 2500 s/d 3000 kalori dalam sehari.
c. Sumber energi dapat diperoleh dari karbohidrat dan lemak.
Sumber Pembangun
a. Sumber zat pembangun dapat diperoleh dari protein.
b. Kebutuhan protein yang dianjurkan sekitar 800 gram/hari.
c. sekitar 70 % dipakai untuk kebutuhan janin dan kandungan.
Sumber Pengatur dan Pelindung
a. Sumber zat pengatur dan pelindung dapat diperoleh dari air, vitamin dan mineral.
b. Sumber ini dibutuhkan tubuh untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit dan mengatur kelancaran proses metabolisme tubuh.
Kegunaan Nutrisi pada kehamilan :
a. Pertumbuhan dan perkembangan janin
b. Mengganti sel-sel tubuh yang rusak
c. Sumber tenaga
d. Mengatur suhu tubuh dan cadangan makanan
Prinsip Nutrisi
a. Konsumsilah makanan dengan porsi yang cukup dan teratur/ seimbang
b. Hindari makanan yang terlalu asin dan pedas
c. Hindari makanan yang mengandung lemak cukup tinggi
d. Hindari makanan dan minuman yang mengandung alkohol
e. Hindari makanan yang mengandung bahan pengawet dan zat pewarna
f. Hindari merokok
Perhatikan cara mengolah makanan
a. Pilihlah sayuran dan buah-buahan yang segar dan berwarna kuning
b. Pilihlah daging dan ikan yang segar
c. Cucilah tangan yang bersih sebelum dan sesudah mengolah makanan
d. Cucilah bahan makanan yang bersih
e. Jangan memasak sayuran sampai layu
f. Konsumsilah makanan yang diolah sampai matang
g. Hindari pemakaian zat pewarna, pengawet, bumbu masak (vetsin)
h. Hindari pemakaian minyak yang sudah berkali-kali digunakan
i. Perhatikan tanggal kadaluarsa dan komposisi vitamin, mineral dan
j. tempat makanan kalengan
4. Masalah gizi yang sering terjadi pada ibu hamil (Paath, 2004).
a. Anemia gizi besi
Banyak terdapat di Indonesia sehingga para ibu hamil juga dianjurkan agar mengkonsumsi tablet zat besi atau mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi (hati ayam).
b. Kenaikan Berat Badan Selama Hamil yang Rendah
Di negara maju rata-rata kenaikan berat badan selama hamil sebesar 12-4 kg, bila ibu hamil kurang gizi, maka pertambahan berat badan hanya 7-8 kg yang mengakibatkan melahirkan bayi BBLR.
c. Masalah Ngidam (emesis gravidarum)
Bila berlebihan disebut hiperemesis (tidak normal) sehingga harus memperhatikan kebutuhan gizi. Keadaan ini berlangsung pada trimester pertama ketika janin belum tumbuh besar sehingga kebutuhan gizi ekstra belum mendesak. Pada trimester kedua dan ketiga emesis jarang terjadi lagi tetapi kebutuhan gizi ekstra untuk pertumbuhan janin sangat perlu.
Langganan:
Komentar (Atom)