Fauzan AB

Fauzan AB
Custom Red

Kamis, 14 Oktober 2010

Safe Motherhood

Berbagai upaya terus di­usahakan dalam rangka menurunkan angka ke­ma­tian ibu. Salah satu­nya adalah mengimplementasikan program Sa­fe Motherhood. Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh perempuan menerima perawatan yang me­reka butuhkan selama hamil dan bersalin. Program itu terdiri dari empat pilar yaitu ke­luarga berencana, pelayanan antenatal, per­salinan yang aman, dan pelayanan obs­te­tri esensial.

Keluarga Berencana (KB)
Konsep KB pertama kali diperkenalkan di Matlab, Bangladesh pada tahun 1976. KB bertujuan merencanakan waktu yang tepat untuk hamil, mengatur jarak kehamil­an, dan menentukan jumlah anak. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi ke­ha­milan yang tidak diinginkan sehingga ang­ka aborsi akan berkurang. Pelayanan KB harus menjangkau siapa saja, baik ibu/ca­lon ibu maupun perempuan remaja. Dalam memberi pelayanan KB, perlu diadakan kon­seling yang terpusat pada kebutuhan ibu dan berbagai pilihan metode KB termasuk kontrasepsi darurat. Angka kebutuhan tak terpenuhi (unmet need) dalam pemakaian kontrasepsi masih tinggi. Ang­ka pemakaian kontrasepsi (contraceptive prevalence rate) di Indonesia baru mencapai 54,2% pada tahun 2006. Bila KB ini terlaksana dengan baik maka dapat menurunkan diperlukannya intervensi obstetri khusus.

Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal sangat penting un­tuk mendeteksi lebih dini komplikasi ke­hamilan. Selain itu, juga menjadi sa­ra­na edu­kasi bagi perempuan tentang ke­ha­mil­an. Komponen penting pelayanan an­te­na­tal meliputi:
a. Skrining dan pengobatan anemia, ma­laria, dan penyakit menular seksual.
b. Deteksi dan penanganan komplikasi se­perti kelainan letak, hipertensi, ede­ma, dan pre-eklampsia.
c. Penyuluhan tentang komplikasi yang po­tensial, serta kapan dan bagaimana cara memperoleh pelayanan rujukan.

Persalinan yang Aman
Persalinan yang aman bertujuan untuk memastikan setiap penolong kelahir­an/­per­­salinan mempunyai kemampuan, ke­tram­pilan, dan alat untuk memberikan per­tolongan yang bersih dan aman, serta memberikan pelayanan nifas pada ibu dan bayi.
Sebagian besar komplikasi obstetri yang berkaitan dengan kematian ibu tidak dapat dicegah dan diramalkan, tetapi da­pat ditangani bila ada pelayanan yang me­madai. Kebanyakan pelayanan obstetri esen­sial dapat diberikan pada tingkat pe­la­yanan dasar oleh bidan atau dokter umum. Akan tetapi, bila komplikasi yang dialami ibu tidak dapat ditangani di tingkat pelayanan dasar, maka bidan atau dokter harus segera merujuk dengan terlebih da­hulu melakukan pertolongan pertama. De­ngan memperluas berbagai pelayanan ke­se­hatan ibu sampai ke tingkat masyarakat dengan jalur efektif ke fasilitas rujukan, keadaan tersebut memastikan bahwa se­tiap wanita yang mengalami komplikasi obs­tetri mendapat pelayanan gawat darurat secara cepat dan tepat waktu.

Pelayanan
Obstetri Esensial
Pelayanan obstetri esensial pada ha­ke­katnya adalah tersedianya pelayanan se­cara terus menerus dalam waktu 24 jam untuk bedah cesar, pengobatan pen­ting (anestesi, antibiotik, dan cairan in­fus), transfusi darah, pengeluaran pla­sen­ta secara manual, dan aspirasi va­kum untuk abortus inkomplet. Tanpa pe­ran serta masyarakat, mustahil pela­yan­an obstetri esensial dapat menjamin tercapainya keselamatan ibu. Oleh karena itu, diperlukan strategi berbasis masya­ra­kat yang meliputi:
a. Melibatkan anggota masyarakat, khu­sus­nya wanita dan pelaksanaan pela­yan­an setempat, dalam upaya memperbaiki kesehatan ibu.
b. Bekerjasama dengan masyarakat, wa­nita, keluarga, dan dukun untuk meng­ubah sikap terhadap keterlambatan mendapat pertolongan.
c. Menyediakan pendidikan masyarakat un­tuk meningkatkan kesadaran tentang komplikasi obstetri serta kapan dan dimana mencari pertolongan.

Peranan Puskesmas
Puskesmas telah dikenal masyarakat se­­bagai tempat memperoleh layanan ke­se­hatan secara umum yang murah, se­der­hana, dan mudah terjangkau terutama ba­gi kalangan kurang mampu. Sejak pertama kali dicetuskan, puskesmas ditar­get­kan menjadi unit pelaksana teknis pe­la­yan­an tingkat pertama/terdepan dalam sis­tem kesehatan nasional. Maka dari itu, puskesmas juga menjadi salah satu mata rantai pelayanan kesehatan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu melalui program-programnya yang mengacu pada empat pilar Safe Motherhood. Dalam pilar pelayanan obstetri esensial, puskesmas menekankan kebijakan berupa:
a. Memberikan pelayanan kesehatan un­tuk semua macam penyakit obstetri
b. Khusus untuk obstetri harus mampu melakukan:
b.1. Pelayanan obstetri esensial darurat (POED)
• melakukan pertolongan persa­linan sungsang
• melakukan pertolongan persa­lin­an vakum ekstraksi
• melakukan plasenta manual
• memasang infus dan membe­ri­kan obat parenteral
• meneruskan sistem rujukan bi­la fasilitas tidak memadai
b.2. Pelayanan Obstetri dan Neonatus Esensial Darurat (PONED)
• merupakan pelayanan POED di­tambah dengan melakukan pe­la­yan­­an neonatus yang mengalami as­fiksia ringan, sedang, dan berat. Bila tidak memungkinkan, segera melakukan rujukan.
c. Melaksanakan konsep sayang ibu dan sayang bayi.


(Felix)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar